INSPIRASI SYARIAH: Artikel
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Agustus 2023

Khasiat Buah Salam

Buah Salam

Bagi sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat pasti tidak asing lagi dengan salah satu jenis pohon yang satu ini, yaitu pohon salam. Pohon salam sendiri banyak digunakan orang untuk diambil daunnya dan dijadikan sebagai salah satu bumbu pelengkap ataupun rempah dapur. 

Selain daunnya ternyata pohon salam memiliki banyak sekali manfaat. Salah satu bagian dari pohon yang juga sering dimanfaatkan yaitu buahnya. Berbeda dengan daun salam yang sering digunakan dalam pembuatan menu masakan tradisional, buah salam bisa dimanfaatkan sebagai obat. Hal ini karena pada dasarnya buah salam merupakan salah satu bahan dalam pembuatan obat- obatan tradisional dan herbal seperti jamu ataupun obat herbal lainnya.

Berikut ini khasiat buah salam yang kami kutip dari laman halodoc.com : 


1. Obat radang

Radang tenggorokan terasa nyeri sehingga menyulitkan seseorang untuk menelan. Nah, buah salam ternyata bisa menjadi alternatif pengobatan tradisional untuk menangani kondisi ini. Sifat anti bakterinya dapat membunuh bakteri penyebab radang tenggorokan. Kamu bisa memakan buahnya langsung untuk mendapatkan manfaat ini. 

2. Mengelola diabetes

Diabetes adalah penyakit kronis dan bisa memburuk seiring waktu. Itu sebabnya, pengidapnya kudu mengontrol pola makan seperti diet karbo dan berhenti mengkonsumsi makanan manis. Nah, buah salam termasuk buah-buahan yang aman karena minim kandungan glukosanya. Malahan, kandungan antioksidan dalam buah ini membantu merangsang hormone insulin sehingga kadar glukosa lebih terkontrol.

3. Mengobati asam urat

Buah salam juga bisa mengurangi efek gejala asam urat, terutama saat kondisinya kambuh. Lagi-lagi kandungan antioksidannya yang membantu mengobati asam urat. Rebus buah salam, lalu minum airnya untuk mendapatkan manfaat ini. 

4. Obat maag

Ketidakseimbangan bakteri dalam saluran cerna bisa memicu asam lambung. Buah salam mengandung sifat antibakteri sehingga bisa membasmi bakteri jahat yang ada di dalam lambung. Dengan demikian, gejala naiknya asam lambung bisa teratasi. Kamu bisa mengonsumsi buahnya langsung atau meminum air rebusannya untuk memperoleh khasiat ini. 

5. Mengatasi kolesterol

Antioksidan yang terdapat pada buah salam mampu menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Hal ini bermanfaat bagi seseorang yang sering mengalami kenaikan kadar kolesterol. Jangan sepelekan naiknya kadar kolesterol karena bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Mulai dari hipertensi, penyakit jantung sampai stroke.    

6. Menjaga kesehatan

Buah sama mengandung vitamin A yang baik untuk kesehatan mata maupun mencegah gangguan mata. Konsumsi buah ini secara rutin untuk merasakan khasiatnya.    

7. Memperlancar aliran darah 

Sering kram dan kesemutan adalah tanda kalau aliran darah sedang tidak lancar. Sebab, kandungan antioksidan dalam buah ini bisa memperlancar aliran darah. 

8. Mengatasi sembelit

Mengonsumsi buah salam secara rutin juga bisa mengatasi sembelit alias susah BAB.  Kandungan seratnya berfungsi meningkatkan pergerakan usus dan melunakan tinja sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan. Kamu perlu mengonsumsi buahnya secara langsung untuk mendapatkan manfaat ini. 


Minggu, 14 Januari 2018

TRADISI MOLODHAN

Perayaan maulid Nabi Muhammad memiliki arti penting dan istimewa bagi masyarakat Madura di manapun mereka berada tidak terkecuali bagi orang madura yang tinggal di Kalimantan Barat. Maulid Nabi Muhammad atau yang lebih dikenal oleh orang Madura dengan sebutan Molodhan berlangsung selama sebulan penuh. 

Perayaan dimulai pada tanggal 1 di bulan Rabiul Awal dimana masyarakat Madura menyambutnya dengan Tradisi Cocoghen. Disebut dengan Cocoghenn karena pada malam tersebut orang madura umumnya mencocokkan penanggalan pertama di bulan Rabiul Awal dalam kalender hijriyah. 
Jika pada malam tersebut masuk malam tanggal 1 di bulan rabiul awal, maka orang madura akan datang berbendong-bondong ke masjid atau ke musholla untuk membawa hantaran buah-buahan. Yang kemudian dibacakan Maulid Al-Barzanji.
Tradisi Molodhan dalam masyarakat Madura selalu identik dengan Buah

Kemudian pada malam tanggal 12 Rabiul Awal, orang Madura merayakan dengan sebutan Malem Dubellesen atau malam dua belasan dalam bahasa Indonesia. Perayaan malam dua belasan umumnya digelar di masjid ataupun mushola secara bersama-sama dengan membawa buah-buahan, aneka kue dan makanan yang kemudian dimakan bersama setelah pembacaan Al-Barzanji.

Tidak berhenti di situ, setelah acara cocoghen dan dua belasan, orang madura melanjutkan dengan molodhan dari rumah ke rumah. Umum nya, orang yang melaksanakan tradisi Molodhan mengundang tetangga, kerabat, maupun keluarga terdekat. Yang diundang hanya  kaum laki-laki saja. Adapun kaum wanita hanya membantu mempersiapkan makanan di dapur.

Hidangan yang dihidangkan kepada tamu undangan dalam tradisi Molodhan adalah aneka buah-buahan, kue, dan hidangan makanan nasi. Sebelum pembacaan Albarzanji, aneka buah-buahan yang sudah dihias dan ditusuk dengan lidi yang ujungnya dipasangi lembaran uang, di hidangkan secara berjejer dihadapan para tamu undangan.  Perbedaan tradisi Molodhan dengan perayaan Islam lainnya terletak pada buah yang beraneka jenis. Jenis-jenis buah itu, misalnya buah apel, anggur, jeruk, nanas, pepaya, pisang, semangka, lengkeng, kelapa muda, sawo, buah rambutan dan sebagainya. Bergantung pada musim buah pada bulan tersebut. Semua buah yang  dijual di pasar hampir kita temukan dalam perayaan tersebut. Aneka buah-buahan dan kue tersebut boleh dibawa pulang setelah selesai pembacaan Al-Barzanji.

Konon, Makna simbolisasi buah dalam tradisi maulid pada masyarakat Madura adalah hasil dari pembacaan shalawat kepada Nabi. Buah adalah apa yang dihasilkan dan diharapkan dari sebatang pohon tertentu. Manusia yang bershalawat harus mampu mengahadirkan “buah sosial” yang berupa kebaikan-kebaikan untuk kebersamaan dan kemanusiaan, sesuai dengan struktur dan peran sosialnya masing-masing. Seorang pemimpin, buah sosialnya adalah menyejahterahkan rakyatnya. Seorang alim adalah mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Seorang kaya adalah kepeduliannya kepada orang miskin dengan mendermakan hartanya.

Tradisi Molodhan memang memiliki nilai tersendiri, selain untuk bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Orang Madura juga meyakini bahwa dengan menggelar Tradisi Molodhan akan membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta mengenang jasa Nabi dalam menyampaikan ajaran islam kepada ummatnya. 

Kecintaan kepada Rasulullah saw merupakan pantulan dari spektrum padang cinta maha luas terhadap Allah SWT. Suatu bentuk kecintaan struktural esensial yang mesti dijaga keberlangsungannya. Karena hanya dengan demikian tawajjuh cinta akan menggapai nilai suci keabadian yang transendental. Apa yang selama ini menjadi tradisi di kalangan masyarakat Madura, menjadi aneka madah shalawat dan berbagai persembahan lainnya. Inilah salah satu wujud kecintaan dan wahana refleksi pengabdian diri kepada Allah dan RasulNya.

Bagi Masyarakat Madura, Ritual maulid adalah “ibadah muthlaqah” yang memang tidak ditentukan syarat rukunnya secara ketat tetapi dengan memperingati kelahiran Nabi, masyarakat Madura ingin mengajarkan cara "menikmati" rahmat-hidayah Allah melalui syafa’at Rasulullah, bahwa cinta mulia itu akan menghiasi sikap dan perilaku dengan kesantunan, keramahtamahan, kejujuran dan berbagai tindakan terpuji lainnya. Ia akan membawa seseorang pada posisi fitrah kehambaan yang sesungguhnya. Jalinan persaudaraan dengan sesama manusia di rekati oleh nilai-nilai luhur kebersamaaan dan persatuan yang utuh (Ummatan wahidah) sebagaimana yang di gariskan Allah; jauh dari persentuhan perselisihan (menganggap bid’ah) dan kebengisan egoisme parsial yang kini sedang melanda ummat manusia di berbagai panggung kehidupan.

*) Abdul Hamid, S.E 

Jumat, 05 Januari 2018

TRADISI ARABUN

Tradisi Arabun merupakan tradisi yang saat ini mulai memudar dalam masyarakat Madura karena dianggap banyak bertentangan dengan syariat Islam dan mendekati perilaku kemusyrikan. Jika dahulu Arabun merupakan ritual wajib bagi masyarakat Madura terutama bagi orang tua yang mempunyai bayi yang baru lahir, kini generasi milenal Madura justru mulai mempertanyakan dan menganggap tradisi arabun adalah tradisi yang menyimpang dari syariat Islam. 

Tidak sedikit generasi muda mileneals Madura yang mulai meninggalkan tradisi ini. Disamping tradisi ini dianggap kurang baik bagi kesehatan si bayi, Tradisi ini juga mulai dianggap bertolak belakang dengan ajaran agama. 

Mulai meredupnya tradisi arabun saat ini tidak lepas dari penggunaan media daun bawang yang dianggap oleh sebagian ulama bertentangan dengan ajaran agama. Hal ini disebabkan karena aroma bawang baik bawang merah, bawang putih atau kuras (daun bawang) dapat mengganggu orang lain. Serta malaikat enggan untuk masuk kedalam rumah yang didalamnya terdapat aroma bawang yang menyeruak. Meskipun pendapat ini masih diperdebatkan. Namun dari sisi kesehatan Asap yang mengandung bau bawang yang pekat juga dianggap kurang baik. Selain menyebabkan bayi batuk-batuk juga rentan terhadap penyakit sesak nafas. 

Arabun merupakan tradisi dimana seorang bayi yag baru lahir, diasapi selama beberapa saat diatas sebuah perapian selama tujuh hari setiap menjelang waktu magrib selama 7 hari. Ritual Arabun mula-mula diawali dengan cara membakar serpihan kayu atau arang dalam sebuah wadah hingga meghasilkan bara. Bahan yang dijadikan sebagai wadah biasanya tembikar yang terbuat dari tanah atau wajan bekas yang sudah tidak dipakai lagi. 

Ketika bara sudah terbentuk, maka mulailah ditaburi atau dimasukkan garam dan kulit bawang merah keatas bara api. Dengan dimasukkan nya garam dan daun bawang, maka api akan menghasilkan percikan-percikan disertai letupan-letupan kecil dan kepulan asap yang beraroma daun bawang. Saat itu, si bayi yang baru lahir diasapi beberapa saat, atau diambilkan asapnya untuk dirabunkan keseluruh badan si bayi dan ibunya. Sebagian orang, terutama para sepuh, melakukan hal ini dengan membacakan doa-doa atau mantera-mantera tertentu. 

Arabun umumnya dilakukan di depan halaman rumah saat menjelang adzan magrib. Ritual arabun tentu sangatlah jauh berbeda dengan ritual Sifudu pada masyarakat Afrika. Sifudu sendiri merupakan nama sebuah daun yang akan dibakar agar menghasilkan kepulan asap. Asap itulah yang akan digunakan untuk mengasapi bayi. Jika pada ritual Sifudu, para saudara dan handai taulan berkumpul bersama dan membuat api unggun di tengah-tengah tempat pelaksanaan ritual kemudian bayi dilempar dari atas balkon ke kerumunan orang yang siap menyambutnya dengan bentangan kain. Maka dalam Tradisi arabun cukup si bayi digendong oleh orang tuanya untuk kemudian dilakukan pengasapan.  

Tradisi arabun pada dasarnya bertujuan untuk menghindarkan bayi dari pengaruh pengaruh negatif atau gangguan setan dan jin. Sebagian masyarakat Madura juga masih percaya bahwa orang yang datang dari jauh, atau keluarga yang baru pulang dari perjalanan jauh harus arabun terlebih dahulu ketika hendak menggendong atau bersentuhan dengan si bayi, agar si bayi tidak terkena pengaruh negatif atau roh-roh jahat yang hinggap di sepanjang jalan. Selain menghindarkan dari pengaruh negatif kepulan asap dan percikan dari api dari garam yang ditaburkan dipercaya dapat menghindarkan bayi dari serangan nyamuk dan serangan  binatang serangga yang lain. 
Belangkas, hewan yang lazim digunakan dalam tradisi Arabun

Pada masyarakat Madura yang tinggal di daerah pesisir, arabun tidak hanya menggunakan bara api yang ditaburi garam dan daun bawang tetapi juga ditambahkan potongan-potongan binatang belangkas (atau orang Madura menyebutnya dengan mi imih) yang sudah mati kedalam bara api. Binatang belangkas termasuk hewan yang monogamik, sehingga sering dijadikan simbol kelanggengan pasangan suami istri. Pemberian potongan-potongan belangkas juga dipercaya dapat menghindarkan si bayi dari suara rengekan (tangisan) pada malam hari. 

*) Abdul Hamid, S.E : Devisi Kajian Budaya Madura IKBM KalBar. 



_____________________
[1] Hasil wawancara dengan Munif S Pegiat Budaya & Alumni Lanceng Kubu Raya Tahun 2012 

Senin, 01 Januari 2018

TRADISI ARASOL

Jika di bulan Rabiul Awal masyarakat Madura di sibukkan dengan tradisi Cocoghen dan Molodhan, memasuki bulan Rabiul Akhir masyarakat Madura kembali di sibukkan dengan sebuah tradisi, yakni Arasol atau Alasor. Arasol merupakan sebuah tradisi selamatan ala orang Madura dalam memuliakan Bulan Rabiul akhir dalam penanggalan Hijriyah atau dalam penanggalan Madura dikenal dengan bulan Rasol.

Tradisi Arasol, konon dilatarbelakangi rasa syukur masyarakat Madura atas keselamatan Nabi Muhammad SAW dari peristiwa percobaan pembunuhan menggunakan batu kepada Nabi yang dilakukan oleh Bani Nadzir. Nabi kemudian mengusir mereka karena menghianati perjanjian yang telah disepakati. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah.

Ada juga yang berpendapat bahwa tradisi Arasol dilatarbelakangi karena pada bulan ini terjadi banyak peperangan di masa Rasulullah, diantaranya: perang Najran (pengusiran bani Nadzir), perang Al Ghabah (disebut Al Ghobah karena penyerangan oleh Unaynah bin Hizn Al Farisi orang Ghatafan terhadap unta-unta milik nabi di Al Ghabah. Perang ini juga disebut perang Dzi Qarad, terjadi pada tahun ke 6 Hijriyah ), serta perang Al Ghamar (untuk menyerang kabilah Bani Asad yang dipimpin oleh Ukkashah bin Mishan). 

Tidak diketahui secara pasti, apa alasan yang kuat orang Madura melaksanakan tradisi Arasol. Namun dari beberapa perbedaan pendapat tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada bulan ini memang banyak sekali terjadi perang. Sampai Asbabun Nuzul diturunkannya Surah Al Hasyr adalah karena penghianatan yang memicu perang, Mulai dari masa Rasulullah sampai peristiwa setelah Rasulullah wafat. 

Sehingga pada bulan Rasol masyarakat Madura yang mayoritas beragama Islam memperbanyak diri dalam mengingat Allah, memperbanyak bersedekah dan meningkatkan ketakwaan serta menjadi pribadi yang mencintai kedamaian. 

Adapun wujud rasa syukur mencintai kedamaian tersebut mereka ikat dalam sebuah tradisi selamatan yang mereka beri nama Arasol. Dengan mentradisikan selamatan (arasol), masyarakat Madura ingin menampakkan sikap syukur atas nikmat yang Allah berikan dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. 

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, seseorang manusia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Bila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan dalam rangka mensyukuri pemberian Allah, rasa syukur itu membuat mereka tangguh dalam memperjuangkan tercapainya suatu target yang menurut perhitungan mereka akan diridai oleh Allah. Misalnya, orang Madura bersyukur bahwa Allah telah memberi mereka kecukupan rezeki, kesehatan, kecerdasan, serta rasa aman dalam melaksanakan ajaran agama Islam, yang mereka sudah membuktikan sendiri bahwa kehidupan mereka menjadi lebih baik karenanya.

Lalu dalam rangka mengekspresikan rasa syukur itu melalui perbuatan, mereka mengundang para tetangga dan kerabat untuk berdoa. Setelah berdoa, tuan rumah menghidangkan makanan ala kadarnya sebagai sedekah kepada yang membacakan doa. 
Tradisi Asorlot, Pada Masyarakat Madura Kalimantan Barat

Pada Sebagian masyarakat Madura yang tidak mau ribet dengan rangkaian tradisi Molodhan dan tradisi Arasol, mereka menggabungkan kedua tradisi tersebut pada tanggal 30 Rabiul Awal dengan sebutan Asorlot (Arasol sekalian Amolot). Disebut Asorlot karena selain melaksanakan maulid, pada malam itu juga akan jatuh bulan rasol. Tradisi ini lazim kita jumpai pada masyarakat Madura yang umumnya tinggal atau berasal dari daerah Kecamatan Ketapang, daerah pesisir Sampang bagian Utara. 

Dalam tradisi Arasol, tidak ditentukan jenis makanan yang harus di sedekahkan. Sedekah yang diberikan oleh tuan rumah (orang yang melaksanakan tradisi alasor) bergantung dengan kemampuan ekonominya. Lauk pauknya bisa berupa daging sapi, daging kamping, ayam hingga telur ayam dengan menu nasi putih sebagai hidangan utamanya. 

*) Abdul Hamid, S.E : Devisi Kajian Budaya Madura IKBM KalBar. 

Sabtu, 30 Desember 2017

LANCENG DAN PRABEN

Lanceng dan PrabenDahulu, kata Lanceng dan Praben hanya dimengerti oleh kalangan orang Madura saja. Namun seiring dengan perkembangan kebudayaan serta keterbukaan pemerintah daerah, Kata-kata Lanceng dan Praben bukanlah suatu yang asing lagi ditelinga masyarakat Kalimantan Barat. 

Hampir setiap tahun, sejak pemerintah Kota Pontianak pada tahun 2012 mengakomodir event pemilihan lanceng dan praben kedalam program pemilihan duta pariwisata, Pemerintah daerah Kabupaten Kubu Raya dan Pemprov Kalimantan Barat juga rutin belakangan ini melaksanakan perhelatan pemilihan lanceng dan praben di kabupaten dan kota di setiap tahun nya. 
Saat mengisi Sesi Materi Kebudayaan untuk peserta lanceng praben Kubu Raya Tahun 2017

Dalam bahasa Madura, sebutan Lanceng biasa digunakan untuk menyebutkan anak laki-laki yang sudah menginjak usia remaja, namun belum menikah. Sedang bagi anak-anak yang masih belum memasuki usia remaja hanya disebut dengan kacong atau nak-kanak. Adapun anak perempuan yang sudah menginjak usia remaja disebut dengan Praben. 

Dalam masyarakat Madura tedapat mitos bahwa  bagi pedagang yang berjualan jika pembeli pertamanya adalah lanceng atau praben, mereka meyakini dagangannya akan laris serta akan menambah barokah dagangannya cepat laku. Sang Pedagang biasanya akan mengibas-ngibas atau menepuk-nepuk barang dagangan yang dijualnya dengan uang seraya mengatakan : Kerus, Kerus Ollenah Lanceng-Praben ( Laris, Laris, Hasil Lanceng -Praben). Disamping itu, para pedagang tidak akan segan-segan untuk banting harga (menjual dibawah harga pasaran) jika pembeli pertamanya adalah lanceng atau praben. Mitos ini masih tetap bertahan hingga saat ini dalam kehidupan masyarakat Madura.

Kembali kepada event lanceng praben, Ajang pemilihan lanceng dan praben sebetulnya tidaklah jauh berbeda dengan pemilihan bujang dan dare di dalam masyarakat Melayu. Atau di Jakarta kita mengenal dengan sebutan Abang dan None. Event ini tidak lain merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya daerah sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreatifitas, dan kecerdasan para generasi muda putra daerah.
Sesi Karantina Peserta Lanceng Praben Kubu Raya Tahun 2017
Masyarakat Madura di Kalimantan Barat patut berbangga karena pemerintah daerah sudah membuka diri terhadap perkembangan kebudayaan generasi muda madura. Generasi muda madura sudah diberikan ruang untuk ber-ekspresi-mengasah bakat dan kreativitasnya. 

Selanjutnya, generasi madura mesti memberikan bukti nyata bahwa mereka benar-benar memiliki komitmen dan semangat untuk ikut andil dalam proses pembangunan di Kalimantan Barat wabil khusus dibidang pengembangan kebudayaan dan pariwisata. lanceng dan praben harus dapat memberikan citra kebudayaan positif Madura serta kepariwisataan daerahnya, bukan sekedar pelengkap kegiatan atau pajangan saja. Disamping itu, para peserta lanceng dan praben harus memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk berkontribusi menepis citra negatif budaya Madura. 

Lanceng dan praben dituntut memiliki ahlak yang mulia (andhep asor) dalam pergaulan sehari-hari. Baik dalam komunitas masyarakat Madura maupun dalam interaksi dengan suku-suku lain di Kalimantan Barat.

*) Oleh  Abdul Hamid, S.E  : Devisi Kajian Budaya Madura IKBM KalBar. 


Selasa, 26 Desember 2017

SELAMETHAN LEPAS NYA TALI PUSAR

Selain ari-ari (Tamoni) pada bayi yang baru lahir, Organ tubuh bayi yang juga mendapat perhatian khusus bagi orang Madura adalah tali pusar atau yang dalam bahasa Madura nya disebut dengan Bucel. 

Bucel atau tali pusar walaupun bentuknya kecil, tapi dalam ilmu medis diketahui membawa manfaat yang sangat banyak pada bayi. Dengan adanya tali pusar bayi bisa menerima nutrisi dan oksigen dari ibu, dimana kedua unsur tersebut diperlukan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan nya. 
Saat bayi dilahirkan, tali pusar tak lagi digunakan untuk mensuplai kebutuhan bayi sehingga harus dipotong dan kemudian di jepit dengan penjepit khusus segera setalah bayi dilahirkan. Karena tidak terdapat saraf pada tali pusar, bayi tidak akan merasa sakit saat dilakukan pemotongan dengan gunting ataupun pisau yang tajam. 

Setelah tali pusar di potong, biasanya petugas medis ataupun dukun akan membungkus sisa tali pusar dengan kain kasa. Adapun selama tali pusar belum kering dan lepas dari sang bayi, proses memandikan bayi berada dalam perawatan dukun beranak. Dukun beranak akan mendatangi si bayi setiap pagi untuk memandikan si bayi selama 7 hari. Selama itu pula, dukun beranak berperan mengganti kain kasa sesudah memandikan si bayi.  

Tali pusar umumnya akan mengering dan lepas dengan sendirinya kurang lebih satu minggu setelah kelahiran. Lepasnya tali pusar pada bayi mendapat perhatian khusus orang Madura dengan diadakan nya selamethan, yakni pada saat tali pusar tersebut lepas dari bayi. 

Umumnya, tradisi selamethan lepasnya tali pusar digelar dengan mengundang tetangga, kerabat ataupun keluarga terdekat. Orang yang punya hanya hajat (orang tua si bayi) akan membuat Tajhin Selamet (bubur selamat). 

Tajhin Selamet adalah bubur yang terbuat dari beras nasi dimasak sampai lembut dengan campuran santan. Warnanya putih dengan rasa gurih dan manis karena setelah bubur tersebut masak, umumnya ditaburi dengan gula merah diatasnya. 

Prosesi selamethan lepasnya tali pusar berlangsung cukup sederhana. Setelah orang-orang yang diundang berkumpul, biasanya ustaz atau kiai yang ditunjuk oleh tuan rumah untuk memimpin doa, langsung melakukan pembacaan doa-doa dan ayal-ayat suci Al Quran. Bacaan yang umum dibaca adalah Surah Al- Ikhlas sebanyak 3 kali, Surah Al-Falaq satu kali dan surah An-nas satu kali lalu ditutup dengan doa. Setelah doa selesai, Tajhin selamet dimakan bersama dengan sedekah yang alakadarnya. Digelarnya Selamatan dengan mengundang orang untuk membaca doa tidak lain adalah sebagai pengakuan dan ungkapan rasa syukur atas semua kenikmatan kesehatan yang Allah berikan kepada sang bayi dan ibunya.

Adapun Tali pusat yang sudah lepas  dibungkus dengan kain putih, kemudian disimpan untuk kelak direndam dalam segelas air dan diminum airnya bila si bayi sakit. Adapun Bayi dan ibunya tetap berada dalam perawatan dukun beranak sampai bayi berumur 40 hari. Setelah masa perawatan berlalu, dukun beranak menerima beras, ayam atau bahan makanan lainnya, dan uang. Semua itu sebagai imbalan atas jasa-jasanya membantu merawat bayi berserta ibunya.

Sampai saat ini, masyarakat Madura masih banyak yang menyimpan tali pusar bayinya. Mereka mempercayai bahwa tali pusar memiliki khasiat untuk menyembuhkan. Bila sang empunya tali pusar sakit, maka tali pusar akan direndam dengan air hangat beberapa saat, kemudian air diminumkan. Dengan meminum air hangat bekas rendaman tali pusar tadi, dipercayai bayi yang sakit akan segera sembuh. [Wallahu a'lam]

*) Abdul Hamid, S.E Devisi Kajian Budaya Madura IKBM KalBar. 

Jumat, 22 Desember 2017

MAKNA DAN TRADISI MEMPELAKUKAN TAMONI (ARI-ARI)

Oleh : Abdul Hamid, S.E

Memperlakukan Tamoni (Ari-ari) bayi yang baru lahir sudah menjadi tradisi masyarakat Madura sejak masa lampau. Tradisi memperlakukan tamoni ini menjadi sesuatu yang penting bagi sebagian masyarakat karena ari-ari dianggap saudara dari bayinya yang telah menjaga dan menyertai bayinya ketika berada di dalam kandungan ibunya, maka dari itu harus dihormati dan diperlakukan khusus. Perlakuan ini tentulah berbeda dengan pandangan mamasyarakat modern yang memandang plasenta atau tali pusar hanya sebatas organ yang membantu bayi ketika berada di dalam kandungan ibunya. Setelah bayi terlahir maka fungsinya tidak ada lagi, dan akan dibuang bersama dengan sampah medis lainnya.


Pada Masyarakat Madura, baik masyarakat yang tinggal di pulau Madura maupun yang tinggal menetap di tanah rantau memiliki banyak ragam dan cara dalam memperlakukan ari-ari bayi, hampir disetiap daerah memiliki cara yang berbeda.  Seperti pada masyarakat Madura di Kalimantan Barat misalnya memperlakukan ari-ari dengan dua cara. Yang pertama dengan dikubur, Dan yang kedua digantung dibelakang rumah. 

Yang Pertama dengan cara di kubur. Dalam hal penguburan bayi, ada bebrapa ritual yang biasa dilakukan saat mengubur ari-ari bayi diantaranya adalah ; 
1. Setelah proses kelahiran selesai, Ari-ari dibersihkan dengan air bersih oleh dukun bayi, bidan ataupun petugas kesehatan.
2. Ari-ari dimasukkan dalam Kendhih (sejenis periuk yang terbuat dari tanah) yang sebelumnya diisi dengan garam, kemudian ditutup dengann cobek yang masih baru. 
3. Ari-ari yang sudah dimasukkan dalam wadah kemudian diatasnya diberi berbagai barang jenis rempah bumbu dapur. Setelah itu dibungkus dengan kain kafan atau kain yang berwarna putih. 
4. Sang ayah atau perwakilan dari keluarga bayi yang baru lahir menggali lubang untuk ari-ari bayi kira-kira sedalam satu lengan. Jika bayi perempuan lubangnya di sebelah kiri pintu utama rumah, apabila bayi laki-laki lubangnya di sebelah kanan pintu utama rumah. Dan yang berhak mengubur ari-ari adalah ayah kandung, atau keluarga yang paling dekat dengan si bayi. 
5. Ari-ari dalam kendhih kemudian dimasukkan kedalam lubang dan ditimbun dengan tanah. 
6. Di atas kuburan ari-ari bayi biasanya diberi pagar dari bambu, atau dengan pagar yang terbuat dari kayu. Pemagaran ini bertujuan agar aman dari serangan binatang. 
7. Dan yang terakhir ari-ari diberi lampu penerangan selama empat puluh hari, hal ini dimaksudkan selain ari-ari terhindar dari serangan binatang di malam hari juga agar ari-ari dan si bayi selalu diberi penerang (limpahan cahaya dari yang Maha Kuasa).

Adapun ritual dalam memperlakukan ari-ari yang kedua ialah dengan cara digantung. Perlakuan nya hampir sama dengan tata cara yang pertama, hanya saja ari-ari tidak dikubur melainkan digantung terlebih dahulu didalam atau dibelakang rumah kemudian setelah lebih dari 7 bulan baru dikubur. 

Jika masyarakat Madura di pulau madura lebih banyak memilih ritual yang pertama, hal sebaliknya justru masyarakat Madura di Kalimantan kebanyakan lebih memilih dengan menggantung ari-ari. Pemilihan menggantung ari-ari tidak lain karena pada umumnya kuntur tanah Kalimantan yang gambut (berair) sehingga membuat ari-ari becek jika dikubur. 

Apapun bentuknya, kedua ritual tradisi ini merupakan sebuah bentuk penghormatan, menghargai kepada ari-ari, sekaligus sebuah pelajaran yang baik. Dalam anggapannya bahwa Tamoni atau ari-ari dari pada kemudian dibuang, lebih baik diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Sebagai bentuk penghormatan telah menyertai bayi ini ketika berada dalam kandungan ibunya. 

Dalam agama Islam juga disunnahkan mengubur anggota badan yang terpisah dari orang yang masih hidup dan tidak akan segera mati, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, ‘alaqah (gumpalan darah), dan darah akibat goresan, demi menghormati orangnya. 

*) Abdul Hamid, Divisi Bidang Kebudayaan IKBM KalBar

Rabu, 20 Desember 2017

Tondu' Majang

Kerinduan terhadap tanah pulau Madura seakan kembali menggelora ketika tari tonduk majang ditampilkan untuk menghibur penonton dalam pemilihan Lanceng Praben Kabupaten Kubu Raya tahun 2017. Tepuk tangan penonton menggemuruh saat sejumlah praben melenggak lenggok diatas stage. Sebagian penonton bahkan meringsek kedepan untuk mengabadikan penampilan tari tonduk majang dengan kamera smart phone nya. 


Tari Tondu' Majang memang memiliki kesan tersendiri bagi orang Madura. Disamping tari tersebut merupakan tari khas kesenian madura. Tari Tondu' Majang juga memiliki makna sebagai mana lagu Tondu' Majang sendiri yang memiliki filosofi yang cukup dalam. 

Tondu’ Majang atau sering disebut “Tanduk Majeng” ini mempunyai makna yang dalam tentang karakter masyarakat Madura dalam melaksanakan kesehariannya sebagai nelayan.  Kehidupan mereka sebagai nelayan sangat keras karena harus menghadapi bahaya di laut (atemmo bhabhaja). Untuk menafkahi keluarga, mereka harus berjuang di laut dengan mempertaruhkan nyawa (bhandha nyaba). 

Maka tak ayal lagi, jika dalam lagu tonduk majang tergambar para wanita Madura yang semangat dan gembira untuk menghibur suaminya yang datang dari melaut. Bait bait lagunya menarik untuk kita hayati dan direnungkan, sebagaimana yang tergambar dalam lirik aslinya : 

Ngapotè wak lajârâh è tangalè,
Rèng majâng tantona lah padâ molè
Mon è tengguh deri abid pajâlânnah,
Masè benyak’ah onggu le ollèna
Layar putih mulai kelihatan
Nelayan tentulah sudah pada pulang
Kalau dihitung dari lamanya perjalanan,
Tentu sangat banyak perolehannya
Duuh mon ajâlling odiknah oreng majângan,
Abental ombek asapok angèn salanjânggah
Duuh kalau dilihat kehidupan pencari ikan,
Berbantal ombak berselimut angin selamanya (sepanjang malam)
Olè...olang, paraonah alajârâh,
Olè...olang, alajârâh ka Mâdurâ
Olè... olang, perahunya berlayar,
Olè... olang, berlayar ke Madura
Rèng majâng bennya’ ongggu bâbâjâna,
Kabileng alako bendhe nyabânah.
Nelayan banyak sekali hambatannya
Dapat dikatakan bekerja bermodalkan nyawanya
Olè...olang, paraonah alajârâh,
Olè...olang, alajereh ka Mâdurâ
Olè... olang, perahunya berlayar,
Olè... olang, berlayar ke Madura

Secara filosofis, Tondu' Majang merupakan kiasan yang bermakna bahwa perjuangan masyarakat pesisir di pulau Madura (karena Madura sendiri dikelilingi lautan) mayoritas mereka berprofesi sebagai nelayan. Tidak peduli berangkat melaut ditengah malam, meskipun saat angin angin kencang, dan ombak yang besar, mereka terus berjuang menangkap ikan untuk menghidupi keluarga mereka meskipun nyawa taruhannya. 

Jumat, 02 Desember 2016

BUDAYA GHELENON PADA MASYARAKAT MADURA

BUDAYA GHELENON PADA MASYARAKAT MADURA
Oleh : Abdul Hamid, SE*)

"Ghelenon"
Ucap seorang pria paruh baya seraya membungkukkan badan nya. Pria tersebut melintas di depan rumah mertua saya. Saya pun menjawab dengan "nyatoreh".

Budaya ghelenon seperti ini sudah jarang saya temui di daerah perkotaan. Namun di Kampung-kampung seperti di daerah Pematang Rambai yang mayoritas penduduk nya orang Madura, budaya ghelenon masih di junjung tinggi dan dijadikan sebagai etika dalam interaksi sosial.

Ghelenon dalam istilah Madura berarti permisi atau numpang lewat. Kata ghelenon umumnya di ucapkan saat melintas atau melewati seseorang atau kumpulan orang yang sedang duduk-duduk terutama mereka yang lebih tua usianya. Tidak hanya mengucapkan kata "ghelenon", biasanya juga di iringi dengan membungkukkan badan sambil menjulurkan tangan ke depan.

Sikap ghelenon dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian. Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya ghelenon ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang lewat, membalas senyuman, memberikan anggukan hingga memberikan jawaban “ya toreh" (bahasa Madura) atau dapat diartikan sebagai “iya tidak apa-apa” atau “silahkan lewat”.

Dengan melakukan hal tersebut, berarti seseorang itu meminta izin untuk lewat di depan orang yang akan dilewati tanpa mengurangi rasa hormat. Budaya Ghelenon dalam pergaulan sosial masyarakat Madura menjadi prasyarat terciptanya manusia yang memiliki Tengka.

Tengka atau tingkah laku dalam kehidupan orang Madura adalah perilaku yang dianggap benar dalam kehidupan bersosial. Baik bersosial dengan keluarga, teman, tetangga, maupun masyarakat sekitar pada umumnya. Jika dalam pergaulan masyarakat Madura di jumpai seseorang yang tidak menjunjung tengka, maka masyarakat madura akan mengecapnya sebagai orang yang tidak tahu tengka. Maka, apabila ada Seseorang yang lewat di depan orang yang sedang duduk-duduk tanpa mengucapkan kata ghelenon, biasanya akan menjadi bahan pergunjingan di lingkungannya.

Sekilas sikap ghelenon terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat Madura. Sikap ghelenon dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal.

Realita saat ini, budaya ghelenon perlahan-lahan telah luntur dalam masyarakat, khususnya pada kalangan anak-anak dan remaja di Perkotaan. Mereka tidak lagi memiliki sikap andhap ashor dalam dirinya. Entah karena orangtua mereka tidak mengajarkannya atau memang karena kontaminasi budaya luar yang menghilangkan budaya ghelenon ini. Mereka kurang menghargai orang yang lebih tua dari mereka. Mereka melewati tanpa permisi, bahkan kepada orang tua mereka sendiri. Padahal sopan santun itu jika digunakan akan menciptakan masyarakat yang berbudaya dan mempererat rasa persaudaraan diantara sesama.

Rabu, 23 November 2016

LAKONAH LAKONIH


Oleh : Abdul Hamid, SE*)
Dengar-dengar dari kawan, kamu sekarang ngajar di IAIN Pontianak, betul ke?
Iya Ba, semester III Jurusan Perbankan Syariah.
Dosen tetaplah?
Bukan Ba, hanya asisten jak.
Tak Ape. Jangan bilang hanya asisten. Apapun peluang yang diberikan oleh orang kepada kita, kita kerjakan dengan baik. Orang tua dulu kita kan ngajarkan, Lakona Lakoni Kennengah Kennengih.

Percakapan diatas adalah perbincangan saya ketika bertemu dengan salah satu sesepuh orang Madura di Pontianak. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Ikatan Keluarga Besar Madura Kota Pontianak. Beliau juga seorang pengusaha, jadi paham betul dengan etos kerja orang Madura. Saya diingatkan agar tidak boleh menganggap remeh sekecil apapun pekerjaan yang sedang saya geluti.

Ungkapan Lakonah Lakonih, kennengnah kennengih mengingatkan orang Madura betapa pentingnya arti profesionalisme dalam setiap pekerjaan dan bersikap kehati-hatian (jijip) orang Madura dalam pergaulan sosial.

Ungkapan tersebut menganjurkan Semangat kerja dan etos profesionalisme seseorang dalam setiap pekerjaan nya. Tidak hanya bekerja karena ada tuntutan realitas, melainkan setiap pekerjaan harus dilandasi oleh semangat keberagamaan sebagai bagian dari amal saleh yang menjadi prasyarat ketakwaannya. Dengan kata lain, dalam melakukan suatu karya atau pekerjaan, seseorang tidak hanya demi memenuhi tuntutan atau kebutuhan hidupnya semata, melainkan karena agama mendorongnya, dan oleh karenanya merupakan salah satu bentuk pengabdian (ibadah) kepada Tuhannya.

Selanjutnya, sesorang yang profesional harus menguasi etika. Kennengnah kennengih  merupakan tata nilai dan tata perilaku yang lebih mendetail mengatur bagaimana orang Madura harus bersikap dan berperilaku disuatu tempat.

Orang Madura harus menjadi pribadi yang senantiasa memegang teguh terhadap etika. Etika mengacu kepada nilai-nilai universal yang harus dimiliki oleh setiap orang Madura dimanapun ia bekerja. Nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kerja keras merupakan contoh nilai-nilai yang harus dimiliki dan dipegang teguh oleh orang Madura yang sedang membangun karirnya. Sepintar dan seahli apapun seseorang dalam bidang yang dikuasainya, tidak akan berarti apa-apa jika Ia tidak mendapatkan kepercayaan dari atasan ataupun teman akibat pribadinya yang tidak jujur.

Terakhir, nilai pribadi serta kemasan diri yang baik harus segera dilengkapi dengan kompetensi yang tinggi. Menguasai pekerjaan kita dengan baik menjadi kata kunci terakhir untuk membangun reputasi orang Madura. Sebaik apapun sikap dan nilai pribadi kita jika tidak dibarengi dengan isi kualitas kinerja kita, maka nilai-nilai tersebut tidak akan terlalu membantu. Untuk dapat menjadi pribadi yang dapat diandalkan dalam bidangnya, tidak ada cara lain kecuali setahap demi setahap seseorang harus terus memperbaiki dan mengembangkan kompetensi di bidang yang di tekuni.

*) Departemen Kajian dan Pengembangan Ekonomi, IKBM Kal-Bar

Minggu, 13 November 2016

TAJHIN MIRA POTE

TAJHIN MIRA POTE
Oleh : Abdul Hamid, SE*)
Setiap kali bulan Safar tiba, kenangan lama di tanah kelahiran pulau Madura selalu menggelayut. Nuansa pulau Madura seakan pindah ke tanah rantau,  Kota Pontianak.

Sudah dua minggu ini, beberapa tetangga kami bertamu ke rumah mengantarkan Tajhin Mira Pote. Ini adalah tradisi orang Madura dalam memaknai bulan safar, atau yang dalam bahasa Maduranya di sebut dengan bulan Sappar. Tradisi berbagi tajhin mira pote seakan tidak lekang oleh waktu, meskipun beberapa generasi orang Madura sudah berganti. Tradisi tajhin mira pote tetap dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur orang Madura yang dijunjung tinggi meskipun orang Madura tinggal di tanah rantau.

Saya sendiri tidak tahu pasti, apa sejarah yang melatar belakangi orang Madura membuat tajhin mira pote? Suatu hari saya pernah menanyakan perihal seluk beluk tradisi ini pada ibu saya. Tidak banyak jawaban yang bisa saya gali lebih mendalam, ibu saya hanya bisa menjawab untuk keselamatan dan tolak bala'. Selebihnya dia hanya menjelaskan tata cara membuat tajhin mira pote dengan rinci kepada isteri saya.

Ibu saya hafal betul tentang bahan baku dan cara mengolahnya, karena seumur hidupnya hampir tidak terlewatkan membuat tajhin mira pote. Melestarikan tajhin mira pote seperti sebuah suatu "kewajiban" bagi orang Madura, sebagaimana tradisi tajhin peddhis pada bulan Muharram, dan tradisi cocoghan pada hari pertama bulan Maulid.
Tajhin Mira Pote

Tajhin mira pote (bubur merah putih) atau juga dikenal dengan tajhin sappar adalah bubur yang dibuat dengan perpaduan bubur merah (menggunakan bahan baku tepung ketan dengan gula merah) dan bubur putih (menggunakan bahan baku tepung beras dengan santan, ditambahkan garam secukupnya).

Cara membuatnya pun sedikit rumit bila dibandingkan dengan bubur biasa. Mula-mula ketan dan beras di cuci terlebih dahulu sebelum digiling. Setelah berbentuk tepung, tepung beras ketan di bentuk bulat-bulat yang sebelumnya sudah dicampur dengan sedikit air kapur yang sudah direbus terlebih dahulu, dibentuk bulat menyerupai kelereng atau seperti ulat sutra. Sesudah bulatan tepung ketan terbentuk, santan dicampur dengan gula merah yang didihkan. Jika sudah mendidih sekitar kurang lebih 10 menit, masukkan bulatan tepung ketan. Diaduk hingga mengental. Biarkan mendidih kembali sambil diaduk agar tidak menimbulkan kerak di dasar wadah .

Kemudian buat adonan bubur putih dari tepung beras yang sudah di encerkan terlebih dahulu dengan air secukupnya hingga merata. Jika sudah merata,  masukkan kedalam panci. Aduk hingga kental menyerupai bubur. Kemudian masukkan air santan. Aduk berulang-ulang hingga masak.

Jika bubur merah putih sudah masak, tuan rumah akan membacakan doa dengan mengundang tetangga terlebih dahulu. Kemudian bubur merah putih dibagikan (diantarkan) kepada tetangga sekitar.

Menurut salah satu budayawan Madura Kalimantan Barat, Subro dalam sebuah tulisan nya Mentradisikan Selamethan. Tujuan diadakan nya tradisi tajhin mira pote adalah untuk menetralkan pengaruh tidak baik pada bulan Shafar yang sebagian orang meyakini sebagai bulan turunnya bencana atau bala’.

Tajhin mira pote pada zaman nya adalah makanan terbaik, mahal dan hanya di makan oleh golongan kaum bangsawan. Hal ini tentu memiliki makna simbolik, bahwa kita dianjurkan untuk bersedakah yang terbaik.
Orang Madura yang mayoritas agama nya beragama islam dan kebanyakan mengenyam pendidikan pondok pesantren meyakini bahwa bencana atau bala’ bisa ditangkal dengan bersedekah. Musibah adakalanya dapat ditebak dan diprediksi kemunculannya, namun adakalanya tidak dapat mampu dilihat dan dan dirasakan dari mana kelak akan muncul. Maka, sedekah yang terbaik yang ditunaikan seseorang akan menghindarkan ia dan keluarganya dari marabahaya.

Tradisi ini tajhin mira pote saat ini tetaplah relevan. Apalagi, ditengah kondisi bangsa Indonesia  yang sedang terkena gonjang-ganjing fitnah dan perpecahan, keberadaan tradisi tajhin mira pote menjadi perekat bagi persaudaraan seiman dan sebangsa. Ketika kain bendera merah putih tak lagi berkobar dalam setiap jiwa warga negara, maka tajhin mira pote menjadi media bagi masyarakat Madura untuk menyatukan rasa.

*) Abdul Hamid, SE : Anggota Departemen Kajian dan Pengembangan Ekonomi IKBM Kalimantan Barat

Minggu, 06 November 2016

TAJHIN PEDDHIS

Oleh : Abdul Hamid, SE*)
Salah satu tradisi orang Madura yang cukup unik dan tetap terjaga secara turun temurun adalah tradisi Tajhin Peddhis atau sebagian masyarakat menyebutnya dengan Tajhin Sora. Tradisi tajhin peddhis atau jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti bubur pedas. Bubur pedas orang Madura berbeda dengan bubur pedas pada umumnya yang dibuat masyarakat Melayu Sambas di Kalimantan Barat. Perbedaan tajhin peddhis dengan bubur pedas khas orang Melayu memang sangat mencolok, Mulai dari bahan baku yang digunakan hingga waktu pembuatan nya. 

Tajhin Peddhis
Jika bubur pedas khas orang Melayu, beras disangrai terlebih dahulu kemudian ditumbuk halus lalu dimasak dengan sayur-sayuran seperti kacang panjang, kangkung, kecambah,  rebung, daun kesum, daun lengkuas, daun kencur dan daun pakis yang cukup dominan, Bubur pedas khas orang Madura tetap dominan beras dengan campuran singkong, ketela, irisan telur yang sudah digoreng, kacang-kacangan  dan sedikit irisan cabai. 

Pembuatan tajhin peddhis juga terbilang cukup unik karena hanya ada dibulan Muharram saja. Tidak bisa kita jumpai di bulan lain. Apalagi dijual di warung atau kantin selayaknya bubur pedas khas orang Melayu Sambas yang bisa dinikmati sepanjang tahun karena sudah menjadi bisnis kuliner terutama di Kalimantan Barat. 

Konon, tradisi tajhin peddhis bermuara pada peristiwa banjir besar di zaman Nabi Nuh. Ketika Nabi Nuh dan kaumnya turun dari kapal mereka merasa kelaparan. Sementara bekal makanan mereka sudah habis, yang tersisa hanya segenggam biji-bijian. Maka Nabi Nuh memerintahkan ummatnya untuk mengumpulkan semua biji-bijian yang tersisa kemudian dimasaknya menjadi semacam bubur. 

Tajhin peddhis yang buat orang Madura tentulah berbeda dengan biji-bijian yang diolah di zaman Nabi Nuh. Namun pada hakikatnya tajhin peddhis yang dibuat oleh orang Madura sebagai tanda syukur dan penolak dari bala'.  Apalagi, kalau kita mengacu pada sejarah Islam, Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Muharram. Diantaranya :
1. Laut Merah terbelah menjadi dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Raja Fir'un.
2. Allah SWT mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan Nun.
3. Nabi Ibrahim diselamatkan oleh Allah dari pembakaran Raja Namrud.
4. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
5. Nabi Ayyub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya selama bertahun-tahun. 
6. Nabi Yakub dipulihkan Allah dari penglihatannya yang kabur.
7. Hijrah nya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
8. Peristiwa Karbala, terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW, yang bernama Sayyidina Hasan dan Husin.
serta masih banyak peristiwa lain yang terjadi di zaman dahulu pada bulan Muharram. Sedemikan banyaknya peristiwa besar yang menimpa para Nabi dan kaum nya di zaman dahulu, maka setiap rumah orang Madura “wajib” membuat Tajhin Peddhis. 

Waktu pelaksanaan tajhin peddhis tidak berlangsung satu hari seperti tradisi bubur suro pada masyarakat Jawa yang dilaksanakan setiap tanggal 10 (hari asyuro). Akan tetapi berlaku selama sebulan penuh di bulan Muharram. Bergantung kapan masing-masing keluarga memiliki keleluasaan waktu untuk membuatnya? 

Tajhin peddhis dibuat tidak sekedar untuk di konsumsi sekeluarga dan kerabatnya, melainkan juga di sedekahkan kepada tetangga terdekatnya. Disinilah dapat kita rasakan sebuah bentuk solidaritas. Sebab dengan pemberian tajhin peddhis ke tetangga (ater) dapat mempererat rasa persaudaraan dan meningkatkan keharmonisan bertetangga. Disamping itu, tentu menjadi penolak bala' karena dengan bersedakah seseorang bisa terhindar dari musibah.  


*) Abdul Hamid, SE : Anggota Devisi Kajian Ekonomi IKBM Kalimantan Barat. 

Ad Placement

Review

Artikel

news