INSPIRASI SYARIAH: Inspirasi
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 September 2021

Dari Ambulan Infeksius Hingga RSUD Sudarso

Ambulan yang kami naiki adalah ambulan jenis infeksius yang sempat jadi perbincangan itu. Bantuan dari Pemprov Kalbar kepada Pemerintah Kota Pontianak. Fasilitasnya lengkap, kendaraan nya bagus. Lebar dan panjang. Nyaman sekali, meskipun dijalan berlubang nyaris tidak ada goncangan. 

Selama perjalanan dari Rumah Sakit Kota menuju RSUD Sudarso, aku terus menyemangati istri. Agar mentalnya tidak down. Aku minta pendapat istri, apakah perlu menghubungi orang tuanya kalau kami dirujuk ke RSUD Sudarso? Istriku bilang jangan. Nanti malah membebani pikiran mereka dan bikin repot. Mereka sawan kalau dengar kata Covid. Apalagi kalau mereka dengar kita ke Sudarso. RSUD Sudarso dimata sebagian orang adalah rumah sakit yang "menakutkan". Wabil khusus bagi mereka yang tak percaya Covid. 

Sepanjang perjalanan banyak sekali pesan WhatsApp masuk. Doa dari para sahabat.  Tak ada perasaan tegang dan panik. Kami bawa rileks saja. Karena kunci menghadapi Covid adalah ketenangan. Ketenangan adalah separuh dari obat.

Ini bukan yang pertama kali kami naik mobil ambulan. Aku sudah tiga kali naik ambulan ke rumah sakit. Terakhir kalinya tahun 2018, saat aku jatuh dari atap genteng rumah. Istriku yang menemani dalam ambulan dari Puskesmas Ambawang Ke RSUD Sudarso. 

Sekitar 20 menit kami sampai ke Sudarso. Perawat dan satpam memakai APD lengkap, sigap menerima kedatangan kami. Istriku dibawa ke bangunan gedung RSUD paling belakang untuk dilakukan screning terlebih dahulu, Kurang lebih 2 jam lamanya sebelum diambil tindakan operasi. 

Saat istriku sudah masuk ruang operasi, aku baru menelpon ibuku dan kirim pesan WhatsApp ke mertuaku. Mertuaku menelpon balik, agar istriku dikeluarkan dari Sudarso. Khawatir di-"covidkan" dan pelayanan nya tak maksimal. Aku menjawab, "Iya". Nanti saya keluarkan. Maksudya, dikeluarkan dari ruangan operasi kalau dah selesai. 

Tak lama berselang, adik ipar dan mama mertuaku datang. Mereka menunggu diparkiran. Aku menjumpai mereka kalau operasi cesar sedang berlangsung. Beberapa menit kemudian, dokter memanggil kami. Operasi cesar sudah selesai, anak dan istriku sehat. Alhamdulillah,. 



Aku mengumandangkan adzan. Kemudian mengambil foto. Sekitar 5 menit lamanya kami bersama perempuan mungil itu. Setelah itu, Perawat membawa bayi kami keruangan perinatal. Sementara ibunya dibawa kedalam ruangan Isolasi VK Covid. 

Pasien yang positif Covid tidak bisa ditunggu. Segala keperluan mereka diurus oleh perawat dan tim dokter. Aku dan istri berkomunikasi via WhatsApp. Kata istriku, perawat nya ramah-ramah. Banyak bergurau agar para pasien tidak stres memikirkan keluarga. 

Sabtu [25/09] Pihak rumah sakit Sudarso menghubungiku, anakku sudah bisa dibawa pulang. Hasil tes nya negatif. Sementara istriku harus tetap menjalani isolasi. Menjalani dua pemulihan. Pemulihan pasca operasi dan covid-19 nya. [Bersambung] 


Keterangan Foto : Anak kami yang ketiga. Foto diambil seusai operasi 


Selasa, 28 September 2021

Jelang Melahirkan, Hasil Tes PCR Isteriku Positif Covid-19

Semua ikhtiar sudah kami lakukan, namun kembali lagi, kemampuan manusia hanya sebatas pada ikhtiar. Ikhtiar itulah yang kelak akan menjadi penyempurna takdir.  

Saat usia kehamilan istriku sudah memasuki 9 bulan, Semua sudah kami persiapkan dengan matang. Mulai dari menentukan tempat untuk persalinan hingga perlengkapan bayi pun sudah kami persiapkan. Istriku juga aku larang untuk keluar rumah jika tidak ada keperluan dan menerapkan physical distancing jika berinteraksi dengan orang.  

Menurut salah satu dokter di Puskesmas Alianyang Pontianak, Perkiraan istriku melahirkan di tanggal 8 September 2021. Hari yang ditunggupun tiba, namun tak ada keluar tanda-tanda. Malam harinya aku bawa istriku ke salah satu bidan di dekat rumah kami. Saran ibu bidan malam itu, istriku harus di USG. 

Hari jum'at [10/09] kami pergi ke klinik Sehati Medika Tanjung Hulu. Dari Hasil USG dr. Frenky Johan, kondisi ibu dan bayinya baik-baik saja. Saran dr Frenky sebaiknya ditunggu saja sampai tanggal 17 September, Jika pada tanggal itu tak juga melahirkan kami disuruh kembali lagi ke tempat prakteknya. 

Seminggu berlalu terasa begitu lama, tak jua ada tanda-tanda melahirkan. Kami pun kembali lagi menjumpai dr Frenky. Hari itu kondisi semuanya baik-baik saja, hanya saja sudah lewat hari dan bayinya sudah makin membesar. Perkiraan berat bayinya 4,2 Kg. Berat bayi anak kami yang pertama 3,0 Kg, Yang Kedua 3,6 Kg. dr Frenky memberi saran agar dilakukan induksi di rumah sakit besar, jangan di klinik karena jika gagal dilakukan induksi bisa segera dilakukan operasi Caesar. 

Saran dr Frenky kami ikuti, Tanggal 18 september kami minta rujukan dari Puskesmas Alianyang ke RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (Rumah Sakit Kota). Rujukan disetujui. Kami menggunakan BPJS Kesehatan kelas III. Hari Senin tanggal 20 september kami ke RS Kota. Anak-anak kami titipkan ke rumah neneknya di Siantan. Observasi dan konsultasi dengan poli kandungan. Hasilnya, Hari Selasa kami disuruh rawat inap, guna  observasi lanjutan dan tes PCR. SOP persalinan di RS Kota mengharuskan tes PCR bukan antigen.

Selama di Rumah Sakit Kota, istriku ditempatkan di ruangan Maternal disamping IGD. Sambil nunggu hasil PCR nya keluar tak henti-hentinya doa kami panjatkan. Berharap hasilnya negatif, agar istriku tidak ditempatkan diruangan isolasi dan persalinan nya bisa  didampingi. Menurut pihak rumah sakit, hasil test PCR bisa  2 sampai 3 hari keluarnya. Lama sekali, tapi kami menunggunya dengan sabar. Disini perawatnya ramah-ramah, Setiap 3 jam sekali, perawat memantau perkembangan kondisi isrtiku dan detak jantung bayinya.

Rabu [22/09] sekitar jam 21.40 perawat membangunkanku, aku diminta untuk keruangan Ponek. Perawat menjelaskan hasil tes PCR Istriku. Hasil tes PCR, Istriku postif Covid-19. Istriku harus dipindahkan ke ruangan isolasi di sebelah ruangan maternal. Aku tidak dizinkan mendampingi. Hanya bisa melihat dari kaca dari luar ruangan. sebelum pindah ruangan, Aku memberi semangat pada istriku, bahwa semua akan baik-baik saja. Ini Soal mental. Orang yang dengan mental kuat, akan mudah menjalaninya.  Bismillah !!! jangan lepas dari baca shalawat, Semua akan menjadi ringan,  Pesanku. 

Dini hari, bidan minta izin melakukan suntik induksi tahap I di ruangan Isolasi. Usai suntikan induksi, Istriku merintih kesakitan. Rasa sakitnya makin kuat, tapi bukan seperti sakit kontraksi mau melahirkan.  5 Jam tidak ada perubahan, hanya pembukaan 2. 

Kamis [23/09] jam 7 pagi dokter memanggilku, dokter memberitahu bahwa istriku harus dirujuk ke rumah sakit Sudarso. Untuk diambil tindakan lanjutan. Rumah sakit kota tidak memadai untuk melakukan operasi caesar untuk pasien covid-19. Kami diminta berkemas, siap-siap. Ada beberapa berkas persetujuan tindakan yang mesti aku tandatangani. Aku menyetujui nya. Jam 09.30 Istriku dirujuk ke Sudarso menggunakan Ambulans Infeksius. Ambulan khusus bagi pasien yang positif Covid-19.  [Bersambung]

*) Abdul Hamid


 


Senin, 08 Maret 2021

BUAH CEMPEDAK


 

Salah satu tanaman buah endemik hutan Kalimantan yang sedang memasuki musim panen di Kampung Madani pada masa pandemi covid -19 ini adalah buah cempedak. Buah cempedak merupakan buah hutan yang sekilas mirip dengan nangka namun rasanya lebih mirip rasa durian. Buah cempedak memang masih satu family dengan nangka, yakni Moraceae. Namun jika dilihat lebih lanjut, bentuk cempedak lebih gilig atau oval memanjang, sementara bentuk nangka lebih variatif, ada yang bulat, lonjong, bahkan ada yang tidak beraturan.

Ukuran buah juga berbeda, umumnya buah cempedak hanya berukuran dua sampai tiga kilogram, jauh lebih kecil ketimbang buah nangka yang bisa mencapai 20 sampai 25 kilogram per buah. Kulit kedua buah ini juga memiliki perbedaan, kulit cempedak memiliki duri yang cenderung tumpul, bahkan kadang duri itu tidak muncul dan hanya berupa titik saja. Sementara buah nangka memiliki duri yang cukup tajam. Jika sudah masak, cempedak akan jauh lebih empuk jika dipegang dibandingkan dengan nangka.

Hampir disetiap pekarangan rumah warga terdapat buah cempedak dan nangka. Kedua buah ini banyak ditanam oleh warga pada masa-masa awal kepindahan ke Relokasi Madani. 

Buah cempedak dan nangka masih bisa tumbuh dengan baik meskipun ditanah gambut. Walaupun memang produktivitas dan tingkat kesuburannya tidak sebaik ditanah putih atau tanah pegunungan. Dilahan gambut, buah cempedak dalam setahun bisa berbuah sampai dua kali. 

Kala musim panen buah cempedak tiba di Kampung Madani, buah ini banyak dijual ke pasar-pasar tradisional maupun toko buah di Pontianak. Masyarakat di Kota Pontianak umumnya lebih menyukai olahan buah cempedak yang digoreng. Disajikan dengan digoreng bersama adonan tepung, mirip seperti pisang goreng. Olahan cempedak goreng lebih disukai apalagi disajikan dalam keadaan masih hangat. 

Buah cempedak di kampung Madani sebetulnya memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila budidaya buah ini dikembangkan dengan baik. Permintaan pasar terhadap buah endemik hutan Kalimantan ini di pulau Jawa cukup banyak. Harganya pun relatif tinggi, 20 ribu sampai 25 ribu per kilogramnya.  

Sayangnya, potensi ekonomi buah cempedak oleh masyarakat atau petani di kampung Madani tidak dikembangkan lebih serius. Masyarakat masih membudidayakan tanaman cempedak secara tradisonal. Kurangnya ilmu pengetahuan serta pemahaman masyarakat di kampung Madani terhadap ilmu pertanian modern, membuat mereka tertinggal. Pemerintah daerah terutama Dinas Pertanian yang membidangi  dalam hal pertanian masyarakat jarang turun kelapangan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat disana. 

Alhasil, buah yang dihasilkan bukan buah unggulan. Sebetulnya kalau pemerintah daerah Kabupaten Kubu Raya mau serius, mereka bisa mendatangkan ahli budidaya cempedak dari Kota Singkawang. Disana, sudah terkenal dengan Si Raja Cempedaknya. Buah Cempedak King dari Kota Singkawang mempunyai keunggulan dalam hal ukuran buah nya. Yang rata-rata memiliki berat 5 kg sampai dengan 13 kg. 

Cempedak King dari Kota Singkawang banyak diminati oleh masyarakat, lebih lebih masyarakat di Pulau Jawa. Daging buah yang tebal serta ukuran nya yang lebih besar memiliki dayak tarik tersendiri bagi para pecinta buah cempedak. 

Sebuah peluang yang cukup besar apabila potensi ini digarap dengan serius. Lahan pertanian di kampung Madani yang masih luas mesti dimanfaatkan dengan baik. Apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini konsumsi masyarakat terhadap buah impor sedang mengalami penurunan. Pasokan buah impor dari China mengalami penurunan. Kesadaran masyarakat terhadap buah lokal sedang bagus. Berdasarkan data BPS, trend produksi buah-buah lokal pada 4 tahun terakhir mengalami kenaikan. Pada 2019, produksi buah lokal mencapai 22,5 juta ton atau naik 4,8 persen dibanding 2018. 

Pandemi covid-19 menjadi peluang tersendiri. Masyarakat lebih banyak mengkonsumsi buah lokal. Mengkonsumsi buah lokal berarti turut membangun pertanian lokal, dengan menyuburkan tanaman buah lokal. Apalagi buah lokal lebih sehat. Tidak ada bahan pengawetnya. Disamping itu, mengurangi kebergantungan pada buah impor, juga bisa memangkas mafia buah impor. Mengurangi impor buah-buahan, bukankah bisa mengurangi beban devisa dan defisit neraca perdagangan?


*) Abdul Hamid


Rabu, 03 Maret 2021

DILEMA PETANI KARET

Para petani karet di kampung Madani terus resah atas jatuhnya harga karet hasil panen mereka. Padahal komoditas karet ini merupakan komoditas andalan para petani di kampung Madani yang mereka memang sudah terbiasa bertani karet sejak mereka tinggal di Sambas. “Sejak pak Jokowi naik jadi Presiden, harga karet bukan naik, malah turun terus. Ini juga salah satu salahnya pak Jokowi ” Ujar salah seorang petani di RT 02 RW 11 Dusun Kampung Madani disertai tawa. 

Jatuhnya harga karet memang terus dikeluhkan oleh para petani di seluruh Indonesia, tidak hanya di Kampung Madani. Bahkan mantan Kabareskrim Polri Komjen Pol (Purn) Susno Duadji yang setelah pensiun dari Polri ikut menanam karet juga mengeluh soal anjloknya harga karet. 

Dalam curhatannya itu, Susno Duadji saat ini sudah malas pergi ke kebun untuk menderes atau menyadap karet, apalagi merawatnya. Alhasil, ribuan hektar kebun karet Susno terlantar akibat anjloknya harga karet pada posisi yang nyaris tidak ada harganya yang berkisar Rp 5.000 per kilogram.

Berbicara soal harga karet, pemerintah sebenarnya telah berupaya mengangkat nilai komoditas ini di dalam negeri. Pada akhir 2018, misalnya, Presiden Joko Widodo berjanji membeli karet petani untuk kebutuhan bahan baku aspal dalam proyek infrastruktur. Presiden Jokowi mengeluarkan 4 langkah kebijakan terkait penurunan harga karet. 

Pertama, Jokowi memerintahkan BUMN untuk membeli karet petani. Kedua, mendorong dibangunnya pabrik pengolahan karet di dalam negeri. Ketiga, Jokowi meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memanfaatkan karet sebagai campuran aspal jalan. Terakhir, Jokowi berjanji akan mengajak dua negara produsen terbesar karet, yaitu Malaysia dan Thailand untuk merencanakan langkah bersama.

Namun, realisasi dari 4 janji Presiden untuk menaikkan harga karet ditingkat masyarakat dan menjadikan karet sebagai bahan baku aspal belum mampu menaikkan harga karet. Sampai wabah pandemi covid-19 melanda seluruh negeri, harga karet tidak beranjak dari harga 5.000 per kilogramnya. 

Diawal tahun 2020, Harga karet sempat diberitakan mengalami kenaikan. Harga karet di pabrik sempat diberitakan Rp. 14.000 per kilogramnya. Tapi kenyataan nya, harga karet di masyarakat masih dibeli dengan harga Rp. 5.000 per kilogramnya. 

Para petani banyak yang tidak sabar, beralih ketanaman lain. Malah sejak tahun 2016 petani di Kampung Madani sudah banyak yang menebangi lahan karetnya. Diganti dengan tanaman kelapa sawit. Luas lahan perkebunan karet warga di kampung Madani terus menyusut, dari ratusan hektar sisa sekitar 30 hektaran saja. Itupun sudah banyak yang tidak terurus. Padahal, tanaman karet yang ditanam oleh warga kampung Madani termasuk tanaman karet bibit unggul.

Sebagian petani karet yang masih bertahan untuk menyadap getah karena tidak ada pilihan lagi. Mau ikut-ikutan beralih ketanaman kelapa sawit mereka tidak punya modal untuk membeli pupuknya. Biaya untuk penanaman dan perawatan kebun kelapa sawit relatif lebih mahal ketimbang menanam karet. Apalagi biaya pasca panen kelapa sawit membutuhkan biaya upah angkut yang besar bagi warga yang lahannya jauh dari jalan. 

Disamping itu, ada beberapa warga dikampung Madani yang memiliki kesadaran terhadap bahaya sawit terhadap kerusakan lahan gambut mereka. Fakta kerusakan lingkungan akibat konversi lahan gambut untuk perkebunan sawit bisa mengakibatkan dampak serius bagi kampung Madani kedepannya. 

Di hulu kampung Madani, sudah terdapat perkebunan kelapa sawit milik perusahaan RJP yang luas lahannya ribuan hektar. Pada tahun 2019 kebun kelapa sawit milik RJP mengalami kebakaran lahan yang cukup hebat yang mengakibatkan dampak kabut asap. Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh perkebunan kelapa sawit bukan hanya bencana kabut asap, tapi juga kekeringan. Sebagaimana diketahui bahwa tanaman kelapa sawit adalah tanaman yang dikenal rakus air. Satu batang pohon kelapa sawit bisa menghabiskan sekitar 30 liter air. Penyerapan air oleh akar tanaman kelapa sawit yang sangat besar bisa menyebabkan kuantitas air pada tanah berkurang.  

Berbeda dangan tanaman kelapa sawit, tanaman karet justru sangat ramah terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, meskipun harga komoditas karet anjlok tapi masyarakat yang masih bertahan dengan tanaman karetnya sebetulnya mereka sedang “berinvetasi “ menjaga kelestarian lingkungan mereka. 

*) Oleh : Abdul Hamid

Senin, 08 Februari 2021

PETANI NANAS



Salah satu komoditas tanaman buah yang mulai banyak ditanam dalam 5 tahun terakhir di kampung Madani adalah tanaman buah nanas. Luas lahan yang ditanami nanas oleh warga sudah puluhan hektar. Sudah mulai menyaingi tanaman pohon sawit. 

Harga buah nanas ditingkat petani sebetulnya tidaklah mahal. Harga jualnya dikisaran harga 2.000 sampai 3.000 per buah. Adapun dipasaran harga buah nanas dijual dengan harga 5.000 rupiah per buah. Petani nanas dari kampung Madani banyak menjual hasil pertanian mereka ke pasar-pasar tradisional di Kota Pontianak. 

Makin banyaknya komoditas tanaman buah nanas di kampung Madani tidaklain disebabkan turunnya harga komoditas jagung dan karet. Para petani lebih memilih menanam komoditas "tahunan" ketimbang tanaman yang lain, dengan pola seperti ini para petani bisa sambil mencari perkejaan yang lain. Menjadi tukang misalnya, atau ikut bekerja menjadi buruh harian lepas ke Kota Pontianak. 

Tanaman buah nanas memang bisa jadi alternatif pertanian sampingan, Karena perawatannya lebih mudah. Tidak perlu perawatan setiap hari. Cukup sebulan dua kali tanaman ini dibersihkan dari rumput-rumput liar disekitarnya. Namun demikian, tanaman ini cukup subur ditanah gambut. Apalagi ditanah yang lapang. 

Potensi pengembangan tanaman nanas dilahan gambut cukup besar. Budidaya nanas juga berkontribusi menjaga menjaga ekosistem dilahan gambut agar tidak terjadi kebakaran hutan. Akan tetapi pasca panen tanaman buah nanas belum banyak dimanfaatkan menjadi makanan atau minuman olahan. Paling banyak hanya diolah sebagai selai nanas, yang hanya sekali dalam setahun orang membuatnya menjadi kue selai nanas. Menjelang lebaran idul fitri. Pada hari-hari lain, buah nanas hanya dimanfaatkan sebagai sayuran pacri nanas. Dijual diberbagai rumah makan padang di Kota Pontianak. 

Sedikit sekali yang memanfaatkan buah nanas menjadi sirup dengan cita rasa yang tinggi. Atau dibuat kripik nanas seperti yang dilakukan oleh para pelaku UMKM di pulau Jawa. Untuk membuat syrup nanas dibutuhkan mesin dan alat produksi dalam skala yang besar. Tidak bisa dibuat dalam skala industri rumah tangga, karena harga dan kualitasnya kalah bersaing dengan olahan pabrik. 

Untuk mengatasi persoalan seperti ini, pemerintah mesti turun tangan. Tidak cukup diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Produk olahan nanas harus menjadi produk unggulan daerah. Dalam hal permodalan Pemerintah daerah bisa bekerjasama dengan para pengusaha untuk membuat pabrik olahan nanas. 

Dengan demikian, petani cukup berkonsentrasi pada penanaman. Menghasilkan tanaman buah nanas dengan kualitas terbaik, agar bisa dibeli oleh industri pabrik yang ada. Petani tak boleh diberikan dua pekerjaan. Disuruh bercocok tanam dan memasarkan hasil pertanian mereka. 

Hasil pertanian harus dipikirkan oleh pemerintah dan pengusaha. Jangan dibebankan lagi kepada para petani. Karena tenaga mereka sudah terkuras untuk bercocok tanam. Sudah setengah abad lebih petani belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Apalagi petani di kampung Madani, pasca relokasi dibiarkan berjuang sendiri. Mereka bercocok tanam hanya berbekal ke-uletan dan etos kerja yang tinggi.  

Untuk membantu petani, Perguruan tinggi mestinya bisa melakukan pemberdayaan kepada para petani. Lewat Fakultas pertanian dengan program pengabdian kepada masyarakatnya. Sayangya, program pengabdian kepada masyarakat dari perguruan tinggi biasanya cukup pendek. Hanya tiga bulan, paling lama enam bulan. Selebihnya mahasiswa belajar ilmu pertanian pada kertas-kertas dibangku kuliah. Itu sebabnya banyak mahasiswa lulusan jurusan pertanian banyak yang jadi politisi. Sebab sudah terbiasa duduk-duduk di warung kopi. Membincangkan nasib petani lewat secangkir kopi. Yang katanya bisa menginspirasi, tapi ketika jadi wakil raktyat para petani hanya dijadikan bahan aspirasi. 


Rabu, 03 Februari 2021

Potensi Ekonomi Tanaman Empon-Empon

 

Oleh : Abdul Hamid*)

Tiba-tiba tanaman empon-empon menjadi viral. Banyak diperbincangkan di media sosial. Mengalahkan cuitan dokter Reisa Broto Asmoro. Dokter cantik yang terpilih sebagai Runner Up I Puteri Indonesia Lingkungan 2010 itu. Yang juga terkenal sebagai host acara Dr. OZ Indonesia Trans TV.   

Di media sosial instagram dan twitter tagar empon-empon terus diperbincangkan. Itu karena khasiat empon-empon dipercaya dapat menangkal virus corona atau yang sekarang dikenal dengan palabelan nya Coronavirus disease 2019 disingkat menjadi covid-19. 

Sampai saat ini memang masih belum ditemukan obat apa yang tepat untuk membunuh virus covid-19? Para medis diseluruh penjuru dunia sudah bersusah payah melakukan penelitian, namun belum ditemukan obat yang tepat untuk seseorang yang terkena Covid-19. Maka para medis menyarankan agar masyarakat meningkatkan imunitas tubuh. Karena apabila imunitas tubuh seseorang itu baik, Maka dengan sendirinya virus itu mati. 

Mayarakat Indonesia pun berlomba-lomba mencari jalan agar imunitas tubuh mereka baik. Ditemukanlah empon-empon yang memang sudah terbukti khasiatnya dapat meningkatkan imunitas tubuh. Dari dulu, ramuan empon- empon sudah dekat dengan lidah orang Indonesia.  

Presiden Jokowi setiap hari minum empon-empon, jauh sebelum virus itu datang ke Indonesia. Jika pada bulan sebelumnya Presiden Jokowi minum satu kali sehari, kali ini sejak covid-19 Ia minum tiga kali sehari. Bahkan, para tamu-tamu yang berkunjung ke istana negara disuguhi minuman empon-empon. 



Empon-empon adalah minuman sejenis jamu yang terdiri dari jahe, kunyit, temulawak, kencur dan tanaman rempah lainnya. Tanaman rempah ini mudah tumbuh dimana saja, termasuk dilahan gambut. Dilahan gambut, tanaman empon-empon malah lebih subur karena tanahnya gembur. 

Dikampung Madani tanaman empon-empon cukup melimpah. Meskipun melimpah, tapi tanaman ini kurang dirawat dengan baik oleh warga, karena nilai ekonomi nya yang rendah. Dibiarkan tumbuh begitu saja dipekarangan tanpa perawatan.  

Dulu, tanaman jahe putih dan jahe merah sempat menjadi primadona. Banyak orang menanam. Tapi itu tidak bertahan lama, harganya terus makin menyusut seiring dengan makin banyaknya petani jahe. Tanaman jahe melimpah. Tak ada pabrik yang bisa menampung hasil pertanian jahe. 

Konsumsi orang terhadap jahe hanya untuk kebutuhan rempah dapur saja, tak ada industri jamu yang membeli. Jahe dari kampung Madani juga kalah saing, afkir karena ukuran nya yang relatif kecil. Tidak masuk dalam skala ukuran kebutuhan pabrik jamu di Jawa.  Akhirnya tanaman ini dibeli dengan harga murah oleh tengkulak. 

Petani jahe malas untuk tanam jahe lagi. Harganya tidak sebanding. Banyak petani di kampung Madani yang beralih ke tanaman perkebunan sawit. Tanaman jahe, kunyit, kencur, lengkuas, temulawak ditanam sekedarnya saja. Hanya untuk keperluan rumah tangga mereka saja. 

Begitu ada covid-19, harga tanaman empon-empon melambung tinggi. Tiga kali lipat dari harga biasanya dipasaran. Bahkan untuk harga jahe merah mencapai 60.000 per kilonya. Tidak ada istilah afkir lagi. Meskipun ukuran nya kecil-kecil tetap saja laku. Petani yang masih menanam empon-empon dipekarangan rumahnya menuai hasil karena harganya yang tinggi. 

Para petani kembali bergairah untuk menanam tanaman empon-empon. Permintaan yang cukup tinggi terhadap tanaman herbal ini memiliki potensi ekonomi yang bagus dimasa pandemi seperti sekarang ini. Bahkan untuk beberapa tahun kedepan. Selama belum ditemukan obat kimia untuk membunuh virus korona. 

Viralnya tanaman empon-empon hendaknya dimanfaatkan sebagai peluang oleh masyarakat Indonesia agar tanaman ini bisa dikenal secara luas, bahkan mendunia. Pandemi ini menjadi momentum bagi para petani tanaman rempah untuk meningkatkan produksinya. Rasanya tidak sulit, karena Kabupaten Kubu Raya memang masuk dalam wilayah penghasil rempah. Desa Sungai Asam, desa tetatangga kampung Madani memang sudah terkenal dengan lumbung Jahe di Kubu Raya. 

Kita berharap, pemerintah mampu membantu para petani empon-empon untuk memasarkan hasil pertaniannya. Menghubungkan mereka dengan pabrik-pabrik jamu, atau dengan para eskportir empon empon. Tentunya disamping membantu pemasaran, pemerintah juga bisa memberikan penyuluhan kepada para petani empon-empon agar produksi pertanian mereka bisa bersaing dipasar nasional dan internasional. Semoga. 

Kampung Madani, 20 Maret 2020


*) Abdul Hamid : Ketua Pengurus Kopsyah Mitra Masyarakat. 


Minggu, 31 Januari 2021

Kelapa Madani

Oleh : Abdul Hamid

Meskipun bukan daerah pesisir, Tanaman kelapa masih dapat tumbuh dengan baik di Kampung Madani. Diatas lahan gambut itu, daun kelapa melambai- lambai. Seperti ditepian pantai. Menambah keindahan pesona kampung Madani di sore hari. 

Dikampung ini, Tanaman kelapa memang banyak ditanam di pekarangan rumah. Hampir disetiap rumah warga terdapat pohon kelapa. Itu karena dahulu dimasa masa awal relokasi,  masyarakat kampung Madani diberikan bantuan bibit pohon kelapa oleh Pemerintah. Bibit itu ditanam dan dirawat dengan baik oleh warga.

Pohon seribu manfaat itu kini pandai berbalas budi. Memiliki nilai ekonomi dan manfaat  ekologi hingga kesehatan. Mulai dari akar hingga daunnya. Akarnya memiliki nilai seni arsitektur tinggi jika dimanfaatkan. Batangnya dijadikan jembatan untuk menyebranngi parit parit kecil di lahan-lahan warga. Kuat, tidak mudah patah meskipun terkena air hujan dan panas. Tempurungnya jadi bahan pembarakan. Dibeberapa warung yang menyediakan mesin parut kelapa, Tempurung dikumpulkan dalam karung Kemudian dijual kepada pengepul. 

Daun kelapa dimanfaatkan sebagai sapu lidi. Pada bulan tertentu, atau jika sedang ada hajatan, daun kelapa muda dijadikan ketupat. Ketupat memang masih lekat dalam setiap tradisi orang Madura. 

Adapun buah kelapa adalah bagian yang memiliki nilai ekonomi paling tinggi. Mulai dari dagingnya hingga air nya. Yang paling sering kita jumpai, daging kelapa yang sudah tua diparut dijadikan santan. 

Meskipun sudah banyak santan kemasan beredar dipasaran, masyarakat di kampung Madani masih menggunakan santan segar. Santan yang dihasilkan langsung dari hasil perasan parutan kelapa. Katanya, rasanya lebih enak dan lebih segar ketimbang santan kemasan yang biasa dijual ditoko. Orang-orang dikampung tidak semuanya suka dengan hal-hal yang instan. Sepanjang masih ada buah kelapa tua, mereka rela memarut sendiri. 

Apalagi sekarang sudah ada mesin parut kelapa listrik. Harganya hanya sekitar 200-an ribu. Banyak dijual ditoko elektronik. Mesin parut kelapa listrik bisa dibeli dengan mudah. Daya listriknya pun tergolong rendah. Orang-orang tak perlu lagi antrii ke warung penggilingan. 

Tapi tantangan nya bukan disitu. Tantangan utamanya adalah dimesin pengupas sabut dan batok kelapanya. Belum ada mesin yang dibuat untuk skala rumah tangga. Mesin pengupas sabut dan batok kelapa baru dibuat untuk skala pabrik besar. Orang-orang harus mengupas sabut dan batok kelapa dengan cara tradisional. Pakai tenaga dan keterampilan alami. Dengan cara ini, Entah sampai kapan tradisi memarut kelapa ini bisa bertahan? Sedangkan santan kelapa instan sudah didepan mata. 

Santan kelapa instan sebetulnya tidak menjadi persoalan. Sepanjang santan instan tersebut sehat dan halal di konsumsi dan yang tak kalah penting juga buatan dalam negeri. Bukan dari hasil impor, yang kita tidak tahu kehalalan nya. Dipasaran, santan kelapa instan masih didominasi oleh produk dalam negeri. 

Komoditas kelapa saat ini tetap jadi unggulan. Menurut data Jenderal perkebunan Kementerian Pertanian, pada tahun 2017 Produksi kelapa nasional tercatat berjumlah 2, 87 juta ton. Potensi ekonomi nya 50,2 triliun. Nilai transaksi kelapa yang tinggi menempatkan komoditas ini di urutan ke lima sebagai komoditas dengan nilai produksi terbesar setelah kelapa sawit, karet, kakao dan tebu. Nilai produksi kelapa bahkan melampui komoditas kopi. Meskipun warung kopi menjamur dimana-mana. Jumlahnya melebihi rumah makan. Namun, tidak semua orang ternyata suka minum kopi. 

Dikalimantan barat saat ini tercatat lebih kurang 100 ribu hektar perkebunan kelapa. Kabupaten Kubu Raya masuk dalam wilayah sentra kelapa, diikuti oleh Mempawah, Kayong Utara dan Sambas. Dunia internasional melirik potensi eknomi ini. 

Kita yang tinggal di Kalbar sering mendengar berita bahwa banyak investor yang mencari lahan untuk pabrik pengolahan kelapa. Ada beberapa negara yang mengincar. Korea dan Thailand bahkan pernah menjajaki investasi ini. 

Kalimantan Barat masuk dalam provinsi primadona, itu karena nilai ekspor kelapa parut kering Kalbar pada tahun 2018 mencapai 121, 8 miliar. Yang membuat kita semua tercengang bukan nilai ekspornya,  Tapi tujuan negara ekpornya. Ada 48 negara tujuan ekspor kelapa parut kering. Itu baru kelapa parut kering. Kita belum bicara sabut, arang aktif dari tempurung kelapa, dan air kelapanya. 

Air kelapa muda kampung Madani rasanya manis. Tidak kalah manis dengan air kelapa yang tumbuh di pesisir. Meskipun tumbuh dilahan gambut yang tingkat keasaman nya cukup tinggi, Air kelapa muda yang tumbuh dilahan gambut tak jauh berbeda dengan yang tumbuh di tanah pesisir pantai. 



Dikampung Madani, air kelapa kelapa muda punya nilai ekonomi. Seperti halnya kebanyakan air kelapa muda pada umumnya. Dimanfaatkan untuk jadi es kelapa. Harganya relatif murah. Hanya lima ribu per buah. 

Adapun air kelapa tua dibuang begitu saja. Belum ada pengepul atau pembeli yang memanfaatkan air kelapa tua. Padahal air kelapa tua nilai ekonominya juga tinggi. Diolah menjadi kecap manis misalnya, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK di Sulawesi Utara. Disana, di desa Liwutung air kelapa tua diolah menjadi kecap manis. Kreativitas ibu-ibu PKK dalam mengolah air kelapa tua di support dengan dana desa oleh pemerintah desa setempat. Sehingga ibu-ibu PKK punya penghasilan tambahan. Mengolah air kelapa menjadi kecap manis yang bernilai ekonomis. Memang seperti tidak lazim, tapi itulah kreativitas dalam ekonomi. 

Kita dulu juga tidak mengenal nata decoco. Produk olahan dari air kelapa tua yang kini digemari banyak orang. Minuman nata de coco sudah banyak dijual dalam bentuk kemasan. Ada yang produksi pabrik besar, ada yang skala industri rumah tangga. Saat lebaran, nata de coco banyak diburu oleh orang untuk dijadikan sajian minuman lebaran. 

Pohon kelapa, memang pohon sejuta manfaat. Mirip dengan pohon kurma, yang dari akar sampai daunnya punya nilai manfaat ekonomi tinggi. Juga sama sama punya nilai “religius” dalam khazanah tradisi islam. 

Jika dimasa Rasulullah, pelepah kurma dijadikan simbolik dengan dilambai-lambaikan sebagai tanda penghormatan kepada tamu agung. Maka pelepah pohon kelapa di Indonesia juga dijadikan sebagai tanda penghormatan dalam setiap tradisi. Dibuat janur saat mantenan, atau dijadikan ketupat saat ada hajatan. 

Yang menarik belakangan ini adalah air kelapa sebagai “pengganti” buah kurma. Karena di Indonesia bukan tempat yang baik untuk tumbuh pohon kurma, maka sebagai tradisi berbuka puasa untuk memenuhi nutrisi tubuh dipilihlah air kelapa. Kebanyakan orang di kampung Madani bahkan orang kampung di Indonesia pada umumnya memang menjadikan air kelapa sebagai minuman berbuka. Jauh sebelum PT Kalbe Farma mengeluarkan produk HYDRO. Produk air kelapa yang dikemas tanpa bahan pewarna dan pemanis buatan.  


Selasa, 14 Juli 2020

JERUK SAMBAS

Oleh : Abdul Hamid
Ingatan saya tentang Jeruk Sambas tiba-tiba kembali mencuat. Saat Aris Bahariyono, Aktivis Yayasan Swadaya Dian Khatulistiwa (YSDK) meng-upload sebuah film dokumenter yang berjudul Kunjungan Silang Pertanian dan Dialog Budaya di akun Yutube nya. 
Tanaman Jeruk Sambas di halaman rumah Subro, Relokasi Madani Desa Mekar Sari

Aris sekarang memang tidak lagi aktif di YSDK. Dia lebih banyak bergelut di pendampingan masyarakat adat. Mengurusi Isu seputar lingkungan dan konflik sumber daya  alam dengan perusahaan atau koorporasi besar di beberapa daerah di Indonesia. 

Film Dokumenter yang di-upload tersebut direkam pada bulan februari tahun 2007 silam. Saat beberapa warga dari Kabupaten Sambas Mengunjungi saudaranya di relokasi pengungsi Desa Mekar Sari Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Kala itu Kampung Madani belum di aspal. Masih jalan tanah. Kalau hujan becek nya bukan main. Belum banyak masyarakat yang punya sepeda motor. Transportasi masih banyak menggunakan motor air. 

Kunjungan itu bukan kunjungan biasa. Tapi sebuah kunjungan untuk menyambung kembali tali silaturahim yang terkoyak akibat konflik sosial Sambas di tahun 1999. Yang melakukan inisiasi adalah YSDK. Sebuah langkah yang cukup berani disaat pemerintah daerah tidak punya kebijakan soal penanganan pasca konflik. Pemerintah daerah lebih memilih jalan "alami". Membiarkan satu generasi habis dulu dimakan usia. Setelah itu, biarlah generasi muda berikutnya yang menyelesaikan. Entah kapan waktunya? 

YSDK mengambil langkah kecil tapi konkrit. Mempertemukan warga yang pernah berkonflik. Pertemuan yang sederhana itu menghapus segala bentuk ketakutan dan stereotype negatif tentang orang Madura. Stereotype negatif bahwa orang Madura pendendam, suka berkelahi, dan tuduhan-tuduhan lain yang banyak ditulis oleh para dosen dengan analisa yang dangkal. 

Perwakilan masyarakat Melayu Sambas disambut dengan hangat oleh warga relokasi. Selayaknya saudara. Canda tawa mengalir, seolah tidak pernah ada konflik diantara mereka. Warga Madura di relokasi tak pernah menutup diri. Siapapun yang bertamu disambut dengan hangat. Rombongan menginap sampai dua hari lamanya. Jalan-jalan menikmati suasana alam kampung Madani. 

Tidak sekedar menikmati suasana alam kampung Madani tapi juga ada transaksi bisnis. Tokoh masyarakat Melayu Sambas yang berkunjung membawa barang dagangan. Ikan asin bilis, buah dan bibit jeruk Sambas. Sedangkan masyarakat Madura di relokasi menukarnya dengan hasil kebunnya, berupa jahe, kunyit dan rempah rempah lainnya. 

Beberapa bibit jeruk sambas yang dibawa dari Sambas ditanam di lahan pekarangan warga. Di lahan gambut. Sebuah langkah dibidang pertanian yang tidak biasa, sebab tanaman jeruk susah sekali bertahan hidup di lahan gambut. Jangankan berbuah, untuk sekedar tumbuh saja susah. Tapi warga Madura di Kampung Madani tidak berpikir ribet, yang penting ditanam saja. Setelah itu dirawat dengan baik. 

Ternyata bibit jeruk Sambas itu banyak yang tumbuh dengan baik. Meskipun perlu perawatan ekstra. Selalu ditinggikan tanahnya agar akarnya tidak tergenang air. Alhasil, jeruk sambas tumbuh dengan baik dan berbuah dengan lebat. Salah satunya di halaman rumah sahabat saya, Subro. Pada bulan tertentu tanaman jeruknya rajin sekali berbuah. Dalam setahun bisa dua kali berbuah. 

Ukuran buah jeruk Sambas memang tidak sebesar jeruk sunkist dari China. Ukuran nya relatif lebih kecil tapi rasanya juga manis. Apalagi kalau musim kemarau. Rasanya manis sekali. 

Masyarakat di luar Kalbar lebih mengenalnya dengan jeruk Pontianak. Bukan jeruk Sambas. Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili tidak terima kalau jeruk Sambas disebut dengan jeruk Pontianak. Unek-unek keberatan nya itu disampaikan pada acara Hari Kesehatan Nasional ke-53 di Jakarta 12 November 2017 yang lalu. Dihadapan Menteri Kesehatan, yang kemudian acara itu dilanjutkan dengan acara makan buah jeruk Sambas.

Tapi sejauh ini orang diluar Kalbar tetap menyebut jeruk Pontianak. Klaim Atbah tidak memiliki dampak signifikan. Orang diluar Sambas juga tidak banyak yang kenal dengan Atbah.  Coba saja Atbah minta bantuan ke Ashanty atau ke anak tirinya,  Aurel Hermansyah. Minta endorse jeruk Sambas. Efeknya pasti berbeda.

Subscriber Aurel di Tutube sudah mencapai 2, 64 juta. Followers di akun Instagram-nya lebih fantastis lagi, 15,9 juta. Jumlah nya melebihi 28 Kali lipat penduduk Kabupaten Sambas. Apalagi jasa Endorse dari Ashanty dan Aurel gratis bagi pelaku UMKM.

Bagaimana kalau Ashanty dan Aurel tidak berkenan? Di Sambas sebetulnya banyak anak-anak muda yang jadi Yutuber. Bahkan sudah ada beberapa orang yang konon  mendapat Silver Play Button dari Yutube. Tapi memang potensi anak muda jarang sekali diperhatikan sama pemerintah daerah. Sehingga potensi daerah tidak banyak ter ekspose ke media sosial. Jeruk Sambas masih dipasarkan dan dikelola secara tradisional.


Kabupaten Sambas memang merupakan sentra penghasil jeruk terbesar di Kalimantan Barat. Kapasitas produksi tanaman jeruknya mencapai 112 ribu ton. Lahan kebun jeruk sambas dari tahun ke tahun semakin diperluas. Pemerintah daerah memberikan dukungan penuh. Bahkan sejak tahun 2014 telah dibangun kawasan jeruk seluas 2.400 hektar. 

Yang perlu dicermati kedepannya adalah saat musim panen jeruk melimpah. Harganya bisa anjlok. Tidak seperti jeruk sunkist yang relatif tidak mengalami fluktuasi harga. Maka yang perlu dipikirkan pemerintah daerah adalah hilirisasi dan membuka pasar yang lebih luas. Agar jangan sampai komoditas unggulan ini anjlok apalagi ada yang memonopoli harga seperti pada tahun 1992. Petani jeruk melawan perusahaan BCM. Timbullah kecemburuan ekonomi. Disinilah awal mula permasalahan struktural itu, dan puncaknya di tahun 1999. Orang Madura menjadi korban. 

Minggu, 12 Juli 2020

BUAH LOKAL

Oleh : Abdul Hamid*)

Bagi orang Madura, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu identik dengan buah. Sajian buah-buahan tidak hanya dalam tradisi Cocoghen saja, tapi "wajib" ada selama tradisi Molodhan. Tradisi Cocoghen adalah tradisi dalam menyambut malam 1 Rabiul Awwal. Cocoghen, yang dalam bahasa Indonesia nya mencocokkan. Mencocokkan jika malam itu sudah jatuh pada malam tanggal 1 Rabiul Awwal. 


Beruntung sekali masyarakat Madura diberikan bibit buah-buahan saat awal pindah ke relokasi Madani. Bibit yang mereka tanam 20 tahun yang lalu itu kini pandai berbalas budi. Selalu berbuah. Meskipun berada di lahan gambut, Bibit buah kelapa, rambutan, cempeddak dan buah nangka tetap tumbuh dan menghasilkan buah. 

Saat maulid tiba, buah-buahan tersebut menjadi sajian yang istimewa. Dihidangkan dalam acara maulid Nabi. Disusun berjejer, diatas piring atau nampan dihadapan para undangan. Tidak ketinggalan diatas buah-buat itu diletakkan uang kertas 2.000 an hingga 5.000 an yang dijepit dan ditancapkan pada lidi. 

Setelah dibacakan doa, buah tersebut boleh dibawa pulang atau dimakan ditempat. Buah, selain sebagai simbol atas pahala bagi seseorang yang bersalawat kepada nabi Muhammad, juga merupakan sumber gizi dan berbagai jenis vitamin yang diperlukan oleh manusia. 

Banyak sekali buah yang disukai Nabi Mumhammad namun salah satu jenis buah yang menjadi kesukaan Nabi Muhammad yang tumbuh di lahan gambut adalah buah semangka. Semangka yang dikonsumsi Nabi memang berbeda dengan semangka di Indonesia. Namun masih satu rumpun buah semangka.  Semangka lahan gambut. Semangka Inul, begitu orang Madura menyebutnya. 

Jenis semangka inul memang berbeda dengan semangka pada umumnya. Ukuran nya lebih kecil, padat dan banyak bijinya. Namun soal rasa manisnya jangan ditanyakan. Terasa legitnya. Buah semangka lokal ini selalu ada pada bulan Ramadan dan bulan Maulid. Harganya relatif lebih murah. dikisaran 4.000 sampai 5.000 per kilo. 

Kalimantan Barat memang kaya dengan buah-buahan lokal. Buah-buahan lokal ini menjadi penyangga ekonomi daerah. Bisa kita bayangkan kalau di bulan Maulid tidak ada buah-buahan lokal. Tradisi Molodhan bisa menjadi ajang membanjirnya buah impor. 

Tingginya permintaan terhadap buah dibulan Maulid memang cukup tinggi. Oleh sebab itu harus diimbangi dengan ketersediaan buah-buahan lokal.  Pada tahun 2018 saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai Impor buah dari China mencapai 741, 35 Juta Dollar Amerika. Data tersebut belum termasuk impor buah apel Amerika. Yang paling banyak di impor adalah apel dan pir. Kebutuhan terhadap kedua buah ini tidak hanya di bulan Maulid. Tapi hampir sepanjang bulan. 

Kedua jenis buah ini memang menjadi buah "favorit" dalam tradisi Molodhan. Distribusi perdangangan buah apel dan pir sangat sistematis oleh para importir maupun pemasok. Sehingga suplainya tak pernah kurang.  

Pedagang senang jual buah impor?  Pedagang itu yang penting bagi mereka melihatnya barang murah, lebih menarik, berkesinambungan suplai-nya. Masalah yang dihadapi oleh buah lokal saat ini,  selain suplai yang tak menentu, juga tampilan yang tak menarik. Suplai yang tak menentu ini membuat harga buah lokal sering fluktuatif bahkan cenderung harganya tinggi.

Membanjirnya buah impor bukan lah fenomena baru. Masalah ini sudah berlangsung lama dan semakin membesar setelah adanya perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA).  Dan belum ada langkah  nyata dari pemerintah untuk mengatasi membanjirnya buah impor di pasar dalam negeri.

Kita patut waspada, agar jangan sampai terus menerus terjadi pergeseran perilaku masyarakat dalam konsumsi buah. Persepsi konsumen mengenai buah lokal mesti terus ditingkatkan. Persepsi akan menggiring konsumen membangun sebuah kesadaran terhadap pentingnya produk buah lokal. Persepsi dan kesadaran juga akan membentuk sikap konsumen dalam memilih produk mana yang akan dikonsumsinya. 

Selain beras, sebetulnya produk holtikultural terutama buah  merupakan hasil pertanian yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Setiap hari semua keluarga selalu membutuhkan buah sebagai bahan makanan penting untuk memenuhi kecukupan gizi yang ideal. Bukankah kita masih ingat dengan kata-kata atau jargon Empat Sehat dan lima sempurna. 

Madani, 15 September 2019. 

Senin, 29 Juni 2020

Mempertahankan Budaya Pangan Lokal

Oleh : Abdul Hamid

Presiden Jokowidodo memerintahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membuka lahan persawahan baru untuk mencegah ancaman krisis pangan. Warning soal ancaman kelaparan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) direspon oleh Presiden Jokowi dengan program Food Estate.

Food estate atau dalam bahasa sederhananya adalah perkampungan industri pangan. Konsep ini adalah konsep pemerintah pusat dengan model pengembagan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian dan perkebunan yang berada di suatu kawasan lahan yang sangat luas. Karena skala pertanian ini cukup besar dan luas, maka pengelolaan nya tidak bisa dilakukan oleh masyarakat melainkan oleh perusahaan industri. 

Masyarakat gigit jari. Pemerintah telah menggeser dari model pertanian peasant based and family based agriculture menjadi corporate based food and agriculture production. Seluruh isi perut rakyat Indonesia akan diatur oleh negara. 

Program food estate pemerintah di tolak oleh para aktivis lingkungan. Salah satunya yang paling santer menyuarakan penolakan adalah aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Indonesia. WALHI menolak dengan tegas cetak sawah baru. Apalagi cetak sawah baru itu akan dilakukan di lahan gambut. Di provinsi Kalimantan Tengah. Lokasinya berada di areal Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) Sungai Kapuas dan KHG sungai Kahayan. 

Alih fungsi lahan gambut untuk sawah di areal KHG memang berpotensi menimbulkan bencana kebakaran hutan dan lahan. Sebab, gambut akan menjadi kering karena siklus hidrologinya rusak jika alih fungsi lahan gambut menjadi sawah. 

Bayangkan kalau tebalnya gambut yang belasan meter itu terbakar. Bencana asap bisa terjadi, terutama di musim kemarau. Kerusakan terhadap lahan gambut juga bisa mengakibatkan bencana banjir saat musim penghujan. Kerusakan gambut bukan perkara sepele. 

Mestinya pemerintah belajar dari kegagalan presiden Soeharto yang membuka lahan satu juta hektar gambut untuk sawah di Kalimantan Tengah. Proyek yang digagas pada era pembangunan orde baru itu. Yang Menterinya bernama Siswono Yudo Husodo. Yang proyeknya bertujuan menyediakan lahan pertanian baru dengan mengubah satu juta hektar lahan gambut dan rawa untuk penanaman padi. 

Gagal total. Karena lahan gambut terbukti tidak cocok untuk tanaman padi. Separuh dari 15.594 Kepala Keluarga yang diboyong dari Pulau Jawa melalui program transmigrasi, pulang meninggalkan lokasi. Parahnya lagi, penduduk setempat menanggung kerugian akibat kerusakan sumber daya alam atas dampak dari mega proyek itu. 

Lantas, apakah lahan gambut harus dibiarkan begitu saja “menganggur”? Tidak bisa ditanami tanaman pangan?

Kita kembali kepada kaidah penciptaan alam semesta bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah tidak percuma. Melainkan memiliki nilai manfaat. Kebermanfaatan lahan gambut begitu banyak. Tidak saja untuk keberlangsungan keanekaragaman hayati, tapi juga untuk tumbuhan tanaman pangan manusia. Manusianya saja yang merubah selera makannya. Sehingga memaksa alam untuk seragam mengikuti selera manusia. Terutama selera kaum kapitalis. 

Lahan gambut sebetulnya sangat cocok untuk tanaman umbi-umbian. Singkong, ketela, dan  talas mudah sekali hidup dilahan gambut. Tanpa pupuk dan perawatanpun masih bisa tumbuh dengan baik. Ditinjau dari sisi gizi dan kesehatan, umbi-umbian lebih bagus untuk dikonsumsi ketimbang beras. Karena banyak umbi-umbian kandungan kadar glukosanya lebih rendah daripada beras. 
Ketela dan Ubi jalar


Sebelum ada penelitian ilmiah untuk itu. Sejumlah suku bangsa punya kearifan lokal untuk tanaman pangan dilahan gambut. Jenis tanaman pangan yang juga sudah lama menjadi konsumsi pangan adalah sagu. Dalam sagu terdapat sumber nabati yang luar biasa manfaatnya.

Jadi titik persoalannya bukan di gambut. Karena lahan gambut terbukti bisa dimanfaatkan untuk tanaman pangan. Kita juga tidak kekurangan pangan, Kita yang kurang kemauan untuk makan apa yang kita punya. 

Dengan mengabaikan tanaman pangan dilahan gambut, berarti kita sedang menggadaikan isi jutaan perut masyarakat Indonesia kepada bangsa lain.

Budaya pangan masyarakat indonesia memang terus berubah. Berubahnya bukan dari zaman now. Tetapi dimulai sejak dulu. Sebelum Via Vallen dilahirkan. Tepatnya di tahun 1980 an. Sejak revolusi hijau digulirkan oleh pemerintah orde baru. Program pembangunan pertanian yang masif itu. Yang ber-orientasi pada padi/beras. 

Sejak itu selera makan dipersempit kepada beras. Pertanian padi mulai merambah ke daerah-daerah. Masyarakat mulai meninggalkan makanan pokok daerahnya. Umbi-umbian dan sagu mulai ditinggalkan. Tak ada lagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah berupa jagung, sagu dan umbi-umbian. 

Konsumsi beras dan gandum mulai mendominasi. Saat era reformasi, dimana produksi beras mulai menurun, pemerintah melakukan impor beras. Impor beras dan gandum dari tahun ke tahun makin meningkat. Konsumsi makanan berbahan gandum dan beras kini telah menjadi lazim bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Tengok saja, bantuan sembako yang diberikan oleh pemerintah terhadap masyarakat terdampak Covid-19. 

Rata -rata bantuan yang diberikan kepada masyarakat adalah beras dan mie instant yang bahan dasar nya tidak lain adalah dari gandum. Jutaan ton tiap tahunnya kita melakukan impor gandum dari Amerika Serikat. Dari jutaan ton impor gandum itu adalah untuk memenuhi kebutuhan industri mie isntan dalam negeri. 

Pemerintah semestinya tidak berpikir secara instan untuk urusan perut warganya. Memang memberikan bantuan mie instan untuk masyarakat yang terdampak bencana, membawa dan memasaknya relatif lebih mudah.  Tidak perlu repot-repot. Tapi kalaupun harus bantuan itu dalam bentuk mie instan, kita bisa mengganti bahan bakunya. Untuk jangka pendek, memang harga gandum relatif lebih rendah daripada memproduksi mie dari bahan baku umbi-umbian atau sagu. 

Tapi untuk jangka panjang, pemerintah bisa melakukan intervensi dengan mendirikan pabrik sagu dan umbi-umbian kedalam skala industri makanan olahan. Sudah ada perusahaan yang memproduksi mie instant dari sayur bayam organik. Mengapa sagu tidak? Bukankah mie Sagu sudah ada dan menjadi panganan yang diminati masyarakat lokal sejak zaman nenek moyang sampai dengan hari ini. 

Sekali lagi, Kita tidak sedang kekurangan bahan pangan. Yang kurang adalah kemauan untuk memanfaatkan, serta kampanye agar masyarakat sadar untuk memanfaatkan sumber-sumber pangan yang sudah tersedia. 

Sabtu, 27 Juni 2020

KOMODITAS JAGUNG

Oleh : Abdul Hamid *)

Komoditas jagung sempat menjadi perbincangan publik diawal tahun 2020. Tepatnya diawal bulan Februari. Tentang rencana impor jagung yang 200 ribu ton itu. Yang mendapat banyak kritik dari kalangan akademisi, karena pemerintahan Jokowi gagal menunaikan janjinya. Janji sawasembada pangan, yang tak kunjung ditunaikan. Tapi berita kegagalan swasembada pangan ini kemudian tenggelam oleh Covid-19. Berita tentang Covid-19 di media lokal dan nasional lebih mendominasi. Berita komoditas jagung tenggelam. 

Apalagi berita tentang Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB) makin santer.  Tidak hanya di Jakarta, bahkan kabarnya Kota Pontianak juga akan melakukan PSBB.  Beberapa pekan terakhir dibulan April kita juga mendapat kabar kalau Bandara Internasional Supadio Pontianak resmi di tutup. Mulai dari tanggal 25 April hingga 31 Mei 2020. Kabar kepastian penutupan  itu disampaikan oleh Executive General Manager Bandara Supadio. Eri Braliantoro. 

Sebelum melakukan penutupan bandara, sejumlah pintu perbatasan di Kalimantan Barat yang menghubungkan kalbar dengan dengan Serawak Malaysia sudah resmi ditutup terlebih dahulu. Sejak akhir bulan maret kemarin. 

Penutupan pos lintas batas negara dan bandara di Kalbar adalah sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona atau Covid-19. Yang tingkat penyebaran nya makin hari makin meningkat. Meskipun peningkatannya tidak sederastis DKI Jakarta dan Jawa Timur. 

Pemerintah Kalbar memang harus cermat menghadapi ganasnya virus Covid-19. Karena selain mengancam kesehatan manusia, Covid-19 juga bisa mengancam ketersediaan pangan kita. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga sudah mengeluarkan peringatan bencana kelaparan. Bencana kelaparan dalam skala besar diperkirakan akan meladanda seluruh dunia. 

Bagaimana dengan Indonesia? Khususnya Kalimantan Barat? 

Ancaman kelaparan itu bisa saja terjadi. Kalau kita tidak mempersiapkan diri. Apalagi, anjuran pemerintah dalam menghadapi Covid-19 hanya menyuruh kita untuk diam dirumah saja. 

Diam di rumah saja bukanlah satu-satunya solusi melawan Covid-19. Malah akan menambah masalah baru. Terutama bagi masyarakat miskin perkotaan. Yang hari-harinya harus diisi dengan bekerja. Sebab jika berhenti bekerja, urusan makan tidak bisa di-cover oleh negara. APBN kita juga tidak surplus. Malah terus mengalami defisit. Jadi APBN kita terbatas untuk mengurusi urusan jutaan masyarakat miskin Indonesia. Untuk negara setingkat Asia, kita belum sekuat Jepang dan Korea Selatan. Yang bisa menerapkan lockdown berbulan bulan.  

Didepan mata, ancaman terhadap kelaparan lebih serius daripada ancaman Covid-19. Sebab masyarakat miskin perkotaan tidak punya lahan untuk bercocok tanam. Kalaupun masyarakat diajak untuk urban farming, fasilitas pendukungnya masih belum memadai.  Sementara urusan lapar tidak bisa ditahan. 

Kita mengandalkan ketahanan pangan kepada para petani yang tinggal di desa-desa. Yang urusan kesejahteraan nya sering dianaktirikan. Namun mereka masih setia untuk bercocok tanam. Menjadi petani. Sementara hasil cocok tanamnya belum kita hargai dengan layak. 

Dikampung Madani, harga komoditas hasil pertanian sangat murah. Komoditas jagung misalnya, harganya cuma 5.000 per kilogram. Harga komoditas jagung memang tidak setara dengan beras, sebab jika harga komoditas jagung naik para peternak ayam broiler akan menjerit.  Jagung tidak lagi menjadi makanan pokok, tetapi sudah berubah menjadi pakan ayam broiler. Kementerian Pertanian belum menemukan solusi tentang harga komoditas jagung ini. Padahal sudah bertahun-tahun terjadi. 

Tak heran jika para petani sudah mulai jarang menanam jagung, sebab tidak sebanding dengan jerih payahnya saat mulai masa tanam hingga masa panen. Namun petani di kampung Madani masih tetap menanam jagung. Sebab dilahan tanah gambut, tanaman padi meskipun bisa tumbuh tapi kurang subur. Orang lebih mengandalkan tanaman jagung, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Tidak ada lahan tanah gambut yang "menganggur". 
Keterangan Foto : Pertanian jagung di lahan gambut  Madani


Lahan pertanian tanah gambut meningkat produktif. Masyarakat di kampung Madani sedang mempersiapkan diri. Berjaga-jaga, kalau krisis pangan itu benar- benar terjadi. Mereka siap untuk menghadapinya. 

Untuk urusan ketahanan pangan, Mental masyarakat di kampung Madani memang sudah terbangun. Relokasi atas kerusuhan sosial 1999, menjadi pelajaran penting bagi mereka. Hutan belantara disulap menjadi pemukiman dan pertanian yang produktif.

Semua komoditas pertanian bisa hidup. Sagu, Padi, ketela, singkong dan umbi-umbian lain mudah dijumpai. Apalagi komoditas jagung, yang memang sudah menjadi budaya pangan mereka. Makanan pokok orang Madura. 

Orang Madura sudah terbiasa dengan makan nasi jagung. Nasi jagung dibuat dengan sederhana. Bahan utamanya jagung tua atau pipil, lalu dicampur dengan sedikit beras atau dalam komposisi lebih banyak beras disebut dengan Nase' Malto'. Disebut dengan Nase' Malto' karena jagungnya To' Malto'. Yang dalam bahasa Indonesianya jagung nya sedikit- sedikit. 

Tambahan jagung pada nasi beras akan membuat nasi lebih terasa gurih dan manis. Apalagi jika dimakan saat nasi jagung masih hangat. Jika di pulau Madura, Nasi jagung dimakan dengan sayur kelor.  Disini, nasi jagung lebih cocok dicampur tumisan sayur pakis atau sayur bayam. Rasanya juga tak kalah nikmat. 

Kamis, 11 Juni 2020

Rampak Naong Beringin Korong

Rumah Budaya Madura di Jalan Selat Panjang Pontianak Utara [Foto Mistur]


Abdul Hamid*) 

Rasa dendam dan ketidakadilan itu akan terus bergejolak didalam setiap jiwa manusia. Sampai kapanpun. Sebelum yang namanya insan ini berjumpa dengan Allah, Sang Penciptanya. Dialah pemilik yang Maha Adil itu. 

Oleh karenanya, jangan terlalu banyak berharap tegaknya keadilan selama kita masih berpijak di bumi ini. Nanti kita sering patah hati. Namun selayaknya sebagai manusia kita wajib memperjuangkan. Ikhtiar nya wajib. Malah sampai ada yang memperjuangkannya dengan berdarah-darah.  

Negara sekelas Amerika pun hari ini tetap ada gejolak rasa ketidakadilan. Perasaan ketidakadilan atas perlakuan antara ras kulit putih dan kulit hitam. Perlakuan diskriminatif. Yang salah satu contohnya bisa dilihat hari ini. Unjuk rasa atas kematian orang kulit hitam yang terus meluas dan belum ada tanda tanda selesai. Kita semua sudah tahu. Ini akibat dari tewasnya satu orang dari ras kulit hitam George Floyd, di dengkul polisi kulit putih. 

Meskipun polisi kulit putih itu sudah ditahan. Dikenakan sanksi yang berat. Demo besar-besaran anti rasis makin meluas. Tidak bisa dibendung, terlanjur sakit hati. Mungkin perlu ada pemberlakuan hukum adat. Agar suasana kembali kondusif. Tapi Amerika bukanlah bagian dari pulau Kalimantan. 

Makanya, orang Madura di Kalimantan mestinya banyak-banyak bersyukur. Jangan terlalu banyak perasaan sakit hati. Orang Madura diluar pulau Kalimantan juga jangan asal komentar. Apalagi informasi yang mereka terima masih setengah-setengah. Tidak utuh. Tidak dikaji secara mendalam. Tidak merasakan bagaimana organisasi masyarakat IKBM (Ikatan Keluarga Besar Madura) menjaga "nyawa" saudaranya yang di pelosok-pelosok itu. Yang kalau terjadi konflik, kita tidak tahu cara mengevakuasi mereka. Yang kalau mereka menjadi pengunngsi, Kita tidak tahu bagaimana menjaga keberlangsungan hidupnya. 

Tapi Ini kan soal kesalahan personal orang madura di luar Kalimantan. Soal Lutfi Holi. Yang ulasan sejarahnya sangat dangkal dan ada unsur penghinaan. Ucapan Lutfi Holi juga tidak tunggal. Tapi  ada penyebab nya. Tepatnya pertengahan 2018. Menyikapi pernyataan Presiden Majelis Dewan Adat Dayak Nasional yang viral itu. Yang pidatonya oleh para nitizen dianggap menghina Islam dan Melayu. Karena disamakan dengan penjajah. Belanda. 

Tapi kenapa baru viralnya sekarang? Saat orang sedang asyik berlebaran. Ini tak lain, Berkat adanya Facebook. Video itu kembali menjadi viral. Diviralkan lagi. Entah siapa yang mempostingnya lagi? Tapi itu hanya pemicu. Akarnya sangat dalam. Sejarah konflik antar etnis di Kalimantan Barat. 

Sebagian orang menganggap ini ada unsur politisnya. Tafsirnya macam-macam. Termasuk menjelang pemilihan kepala daerah. Saya sendiri tidak banyak berkomentar di medsos soal politik ini, Saya lebih senang jika ada ulasan sejarah yang bisa meluruskan dan menjawab pertanyaan Lutfi. Bukan malah dijawab dengan laporan yang disertai dengan pernyataan ancaman. 

Tidak bisa persoalan ini digeneralisir.  "Hilang harga diri kita. Ini soal Malo." Tulis seorang teman dari pedalaman via Chat WhatsApp grup.   

Bagi orang Madura, perasaan Malo merupakan perasaan akibat dari perlakuan orang lain yang tidak mengakui kapasitas dirinya sehingga yang bersangkutan merasa menjadi tada’ ajhina. Lalu benarkah orang Madura di Kalbar tada' ajhina karena rela menundukkan diri untuk kasus Lutfi Holi ini? 

Saya kira kita jangan terlalu buru-buru merendahkan diri kita sendiri? Bukankah Rasulullah sendiri pernah mengalami perjanjian yang dianggap merugikan. Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah perjanjian yang semula menuai rasa kecewa umat Muslim karena dianggap sangat merugikan dan  berbuah bagus diakhirnya. Hal ini karena perjanjian tersebut menyimpan makna tersirat yang ternyata membawa keuntungan sangat besar dikemudian hari. 

Nah, Untuk penyelesaian adat atas kasus Lutfi, saya kira tiak usah terburu-buru kita menganggap ini  Malo. Ini soal keberlangsaungan hajat hidup saudara kita di pulau Kalimantan. Yang ari- ari mereka sudah tertanam, jauh sebelum republik ini berdiri. Yang tulang sulbinya sudah tidak lagi tulang sulbi dari pulau garam. Tapi sudah bercampur dengan tulang sulbi orang Kalimantan. Bisa dari tulang sulbi Suku Dayak, Melayu, China, Bugis, Banjar, Bantak, Jawa  dan suku-suku yang lain. 

Menunduk pada kesepakatan ormas yang membuat pernyataan mengancam kita, hakikatnya bukan untuk merendahkan harga diri orang Madura. Menunduk justru bisa jadi menaikkan derajat kita dimata Tuhan dan orang lain. 

Pada proses mediasi kasus Lutfi ini kita tidak sedang kehilangan identitas kita sebagai orang Madura. Justru Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) sedang menunjukkan identitasnya sebagai organisasinya orang Madura yang Rampak Naong Beringin Korong. 

Makna ‘Rampak naong beringin korong’ sendiri menjadi pedoman hidup yang dimaksudkan bahwa orang Madura menyukai kehidupan yang damai, tanpa kekerasan, diskriminasi, dan persengketaan. Falsafah ini tentu bisa menjadi bantahan terhadap stereotype kekerasan yang sering dialamatkan kepada orang Madura sendiri.

Mungkin Stereotype tersebut sudah terlanjur berkembang dan mengakar kuat di masyarakat orang luar Madura sehingga seolah sulit mengubah paradigma tersebut. Sekuat-kuatnya stereotype itu  yang perlu kita ingat bahwa sejarah telah mencatat lain dari Stereotype negatif yang disematkan kepada orang Madura. Orang lain mungkin abai soal ini. Tapi generasi yang akan datang akan membaca sejarah. Mereka akan mengetahui sikap bijaksananya orang Madura. Apalagi saat ini kita sudah memasuki dunia digital. 

Orang yang tinggal di ujung kutub utara dan selatanpun bisa tahu. Video ataupun tulisan status dalam media sosial bisa dihapus. Tapi jejak digital tidak bisa dihapus. Pun pula jejak kebaikan dan keburukan tidak akan pernah di bisa dihapus sampai Sang Maha Pemaaf itu sendiri yang menghapusnya. 

* Penulis Buku Khazanah Budaya Madura Kalimantan Barat

Kamis, 26 September 2019

PEMBIAYAAN BERBASIS SYARIAH

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat bekerjasam dengan Dompet Dhuafa Menggelar Workshop Pembiayaan Berbasis Syariah di Pondok Pesantren Nurul Jadid Karanganyar Desa Sungai Ambangah.
Bersama Pengasuh Nurul Jadid, Pendamping Dompet Duafa dan Bank Indonesia 

Selasa, 24 September 2019

BANGKIT LAGI


Sudah lama tidak diskusi bersama. Sejak tahun 2016. Saat Mitra Sekolah Masyarakat [MiSeM] pindah dari Bahari Mas. Tak ada lagi aktivitas. Apalagi ditahun itu, ada musibah besar. Pembelian aset yang bermasalah. Yang sampai sekarang belum terselesaikan. 

Diskusi 
Baru hari ini bisa duduk bersama lagi, membahas rencana aksi MiSeM ke depan. Tidak boleh terlalu lama terpuruk dibawah. Meratapi "takdir Tuhan" yang sudah terjadi. Biarlah itu diselesaikan dengan jalan "Minhaisu layahtasib".

Regenerasi harus tetap berjalan. Apalagi saat ini perilaku intoleransi makin marak terjadi. MiSeM harus segera ambil bagian menjadi corong Juru Damai 

Jumat, 13 September 2019

SYARIAH MARKETING

SYARIAH MARKETING
Oleh Abdul Hamid

Saya langsung terperangah begitu disodorkan dengan judul ini. Pengaruh Syariah Marketing Terhadap Keputusan Nasabah Menggunakan Pembiayaan Murabahah. Yang menyodorkan judul itu namanya Marisa Fitri. Dia adalah mahasiswi Jurusan Perbankan Syariah IAIN Pontianak semester akhir. Sebelumnya dia pernah melakukan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan di Kopsyah Mitra Masyarakat tahun lalu. 
Dokumentasi wawancara dengan anggota

Dia berinteraksi langsung dengan anggota. Mengamati secara teliti alur pembukuan, mencermati setiap pengambilan keputusan pengurus. Selama kurang lebih dua bulan. Setelah selesai kegiatan PPL, Dia juga kami libatkan dalam pelaksanaan kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopsyah untuk tahun buku 2018. Sebagai sekretaris panitia. 

Seusai RAT, dia mengajukan judul Syariah Marketing ini. Dan disetujui oleh dosen pembimbingnya. Objek penelitiannya adalah Kopsyah Mitra Masyarakat. Saya terkejut. Apakah kami betul-betul sudah menerapkan syariah marketing secara sungguh-sungguh?  

Sempat punya perasaan ingin menolak surat permohonan penelitiannya. Tapi takut anak tersebut down dan kecewa. Sedang semangat-semangat menggarap tugas akhir kuliah. Saya sanggupi saja. Toh tidak ada salahnya untuk menguji apakah Kopsyah sudah menerapkan syariah marketing atau tidak? Ini penelitian yang sangat baik. Mumpung ada yang melakukan evaluasi langsung kepada anggota, Apakah anggota mengerti dengan syariah marketing? Kalaupun anggota masih asing dengan istilah syariah marketing, ada instrumen pertanyaan penelitiannya yang bisa menuntun anggota. 

Instrumen pertanyaan penelitiannya memuat pertanyaan dimensi Akhlaqiyah, Soal sopan santun. Dimensi Rabbaniyah, soal keadilan, kesetaraan, kesamaan perlakuan terhadap anggota dan nilai-nilai universal yang lain. Dimensi Al-Waqi'iyyah, soal penampilan, kesalehan sosial pengurus dan karyawannya, serta akhlaq pergaulan sosialnya. Dan juga memuat pertanyaan dimensi Al-Insaniyah, soal sifat humanistis sebagai hamba Allah. 

Karakteristik syariah marketing memang berbeda dengan marketing pada umumnya. Jika marketing pada umumnya berbicara pencitraan, prestise, cita-diri fungsi dan harga. Maka syariah marketing mempertimbangkan nilai baik dan buruk serta halal dan haram. 

Penelitian Marisa akan memberikan kontribusi besar untuk perbaikan kopsyah. Kami memang terus menerus melakukan evaluasi total terhadap Manajemen Kopsyah Mitra Masyarakat. Agar tahun depan, di tahun 2020 Kopsyah menjadi koperasi syariah terbaik dalam tata kelola. Menjadi laboratorium bagi koperasi syariah di Kalimantan Barat. Sebuah misi yang berat. Karena pada tahun 2025 Kopsyah mengusung misi menjadi koperasi syariah terbesar dari sisi aset dan anggota di Kalbar.  

2020 sudah didepan mata. Kami harus bekerja lebih giat lagi. Sekecil apapun masukan, apalagi itu menyangkut penelitian yang ilmiah, saya harus memperhatikannya. Saya selalu membaca hasil penelitian mahasiswa yang meneliti di Kopsyah. 

Usai Marisa menentukan sampel responden penelitiannya. Saya sendiri yang mengantarkan dia berkunjung ke rumah-rumah anggota. Saya ingin memastikan bagaimana wawancara itu dilakukan? Bagaimana peneliti berinteraksi dengan anggota kopsyah? Hasil penelitian syariah marketing ini nantinya akan menjadi acuan bagi kami untuk mengukur Maqosid Syariah Indeks kami. Semoga nanti ada mahasiwa yang tertarik untuk meneliti soal itu. 

Minggu, 08 September 2019

SEWANYA DIBAYAR DENGAN SHOLAWAT NARIYAH

SEWANYA DIBAYAR DENGAN SHOLAWAT NARIYAH
Oleh : Abdul Hamid

Tak lama lagi kantor cabang Kopsyah Mitra Masyarakat Sungai Ambawang akan pindah. Yang sebelumnya menumpang diruang tamu rumah saya, akan pindah ke kantor yang lebih ideal untuk ukuran sebuah lembaga keuangan. Kantor itu awalnya difungsikan untuk tempat "ngantornya" Haji Rudi Mahalli Ilyas. Seorang milyader muda yang menekuni banyak usaha. 
Gedung Kopsyah MM Sungai Ambawang

Kopsyah MM diberikan hak pakai selama 2 tahun. Dan akan diperpanjang jika Kopsyah merawat dengan baik Gedung tersebut. Bisa sampai 5 tahun. Jika Haji Rudi tidak memerlukan untuk dipakai. Yang penting dirawat dengan baik. Begitu pesannya 

Awalnya kumuh dan halamannya dipenuhi dengan semak belukar. Kantor itu sudah lama tidak difungsikan. Hanya dipakai sebentar oleh pemiliknya.  Tidak sampai satu tahun. Kemudian terbengkalai selama bertahun tahun. semenjak saya pindah ke Parit Aim Agustus 2017, Kantor itu sudah  tidak lagi difungsikan. 

Setiap kali lewat, saya terpesona dengan gedung bangunannya. Megah. Dalam hati saya selalu bertanya, Siapakah pemiliknya? Andaikan Kopsyah diberikan tempat numpang di gedung itu, secara gratis? Maka gedung megah itu akan kami rawat dengan baik. Dan menjadi pusat pengembangan ekonomi syariah di Ambawang.  Setiap kali lewat saya bacakan solawat satu kali. Dengan harapan Allah mengabulkan permintaan saya. 

Bukankah dengan bacaan solawat itu tidak lain mempercepat terkabulnya sebuah keinginan. Seperti yang banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi dan para Ulama. Menjadi wasilah atas terkabulnya sebuah doa. Saya pun seringkali tertarik untuk membuktikan nya. Dan tidak lama saya dapat informasi kalau gedung itu milik Haji Rudi. Si Milyader muda yang dermawan itu. Maka untuk "mendaratkan" solawat yang saya baca, saya meminta sahabat Sekretaris Kopsyah MM untuk melakukan lobi. Kebetulan dia orang terdekat Haji Rudi. 

Tak lama Saya dapat kabar kalau gedung itu sedang dipakai oleh karyawannya. Untuk tempat tinggal. Sempat kecewa begitu mendengar kabar tersebut. Tapi saya terus memantau pergerakan di Kantor itu. Tidak ada tanda-tanda kalau kantor itu dihuni oleh orang. Saya menaikkan bacaan solawat dari yang sebelumnya hanya membaca "Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad" ke Sholawat Nariyah. Yang fadilahnya seperti bara api yang membakar apa saja setiap keinginan ummat Nabi Muhammad. 

Terbuktilah keutamaan sholawat nariyah. Allah menjawab doa kami dengan perantara saya dipertemukan dengan pemilik gedung itu lewat pembuatan film dokumenter Cahaya Damai Dari Kalimantan. Saya pakai bahasa"doa kami" karena sebelumnya saya meminta semua anggota grup WA Kopsyah MM untuk ikut membacakan sholawat nariyah. Saya yakin teman-teman turut membaca dan berdoa. 

Bacaan sholawatnya menjadi berjamaah. Menjadi kekuatan besar, yang dapat menghancurkan rintangan-rintagan kecil yang bernama keterbatasan materi. Itulah kekuatan sebuah solawat yang semestinya menjadi sebuah senjata utama umat Nabi Muhammad diakhir zaman. 
Ketika saya ditanya oleh orang orang di sekitar Kantor Kopsyah MM berapa harga sewa gedung ini? Saya jawab dengan yakin "100 bacaan Sholawat Nariyah untuk bayaran 2 tahun sewanya". 

Senin, 29 Juli 2019

PREFERENSI MENABUNG

Oleh : Abdul Hamid

Skripsi 
Saya baru membaca hasil studi mahasiswa Perbankan syariah IAIN Pontianak yang meneliti tentang Analisis Faktor yang Mempengaruhi Preferensi Menabung Siswa SMA Hisada di Kopsyah Mitra Masyarakat. Dua minggu yang lalu skripsi itu diserahkan oleh penelitinya ke Nurima, Manajer Kopsyah Mitra Masyarakat. Baru sempat saya baca. Itu karena hari ini saya lagi demam. Tidak bisa kemana-mana. Jadi, daripada manyun dirumah saya bawa baca tulisan. 

Hasil penelitian nya menarik. Pertama; Bahwa Faktor pendapatan sangat mempengaruhi siswa menabung. Karena pendapatan setiap orang tua siswa berbeda-beda. Walaupun siswa yang tidak rutin menabung mendapatkan hasil tabungan yang lebih besar. Sekali lagi, karena jumlah nominal menabungnya besar. Meskipun tidak serutin teman-temannya. Yang Kedua; Bahwa tingkat Preferensi Menabung siswa di SMA Hisada didasari atas kepercayaan mereka kepada gurunya. Pak Mustawi. Yang juga sebagai bendahara pengurus di Kopsyah Mitra Masyarakat. Yang paling disiplin kalau soal keuangan. Yang paling disiplin di sekolah dalam waktu belajar mengajar. Disiplin dalam segala hal. Tidak mudah mendapatkan sosok yang serba disiplin dalam segala hal.

Ternyata perilaku kepribadian seseorang itu mendatangkan kepercayaan. Tingkat preferensi menabungnya dipengaruhi oleh faktor lain. Bukan dari faktor internal produk itu tapi oleh Faktor eksternal dari produk yang ditawarkan. Hasil ini mematahkan pendapat Ahli Marketing, Philip Kotler yang melegenda itu.

Yang pendapatnya banyak dikutip oleh dosen dan mahasiswa. Bukunya menjadi buku bacaan wajib bagi yang mengambil ilmu markteting. Itu karena para dosen dilingkungan perguruan tinggi agama islam belum banyak yang mampu menterjemahkan perilaku nabi dan para sahabatnya dalam urusan dagang. Sehingga belajar marketingnya harus ke orang bule. Yang kalau istinja' saja mereka belum tentu tahu. Tapi, ya sudahlah. Semoga fenomena ini melahirkan para pakar pemasaran syariah kedepannya. 

Kita lanjutin saja pada hasil studi Ria Lestari. Mahasiswi asal Sambas itu. Yang ketiga hasil dari studi tersebut adalah Faktor aksebilitas yang jauh, tidak menjadi alasan bagi siswa karena tabungan mereka dilayani disekolahnya. Pun mereka para siswa tidak ada yang tahu kantor Kopsyah Mitra Masyarakat. Karena siswa sudah terlanjur percaya sama Pak Mustawi. Tidak pernah ditanyai oleh siswa, Apakah koperasi syariah nya sudah berbadan hukum apa belum? Sudah punya NIK Koperasi apa belum? Sudah rutin melaksanakan RAT apa tidak? 

Mereka percaya saja pada Pak Mustawi. Toh, sudah bertahun-tahun pelayanan menabung di sekolah ini dilakukan. Belum pernah ada kasus, siswa tidak bisa mengambil tabungannya. Seperti yang biasa terjadi di beberapa sekolah dan BMT. Bagi mereka, cukup tahu Pak Mustawi.  

Kepercayaan seperti ini bagus, tapi tidak boleh dibiarkan terus menerus. Koperasi syariah juga harus membangun sistem. Tidak boleh bergantung dengan satu figur. Sebab umur manusia makin menua, dan regenerasi perlu dilakukan. Semoga Mustawi tidak lelah dan bosan. Tidak jenuh. Sebab sudah 4 tahun berjalan mengabdikan diri di Kopsyah. Tanpa gaji. Tanpa uang transport. Totalitasnya tidak diragukan. Mulai sejak pendirian hingga sekarang. Selalu melayani. 

Terpikir untuk membuka kantor pelayanan di daerah Kebangkitan Nasional. Untuk mengurangi beban tugas Mustawi. Tapi Kopsyah masih terbentur dengan dana operasional. Harus sewa Ruko, atau minimal kios. Dan itu tidak bisa dilakukan tahun ini. Itulah sebabnya semua masih ditangani oleh pengurus. 

Pengurus yang baik, memang harus menjadi orang yang amanah.  Juga harus Tabligh. Dan Tabligh dalam keuangan itu perlu dikuatkan dengan suatu perangkat yang disebut dengan teamwork. Kerja sama. agar terjadi Sustainability (Keberlangsungan kopsyah itu sendiri). Jadi tabligh itu tidak diterjemahkan seperti tabligh nya jamaah Tabligh yang dakwahnya gedor pintu ke pintu. Itu baik. Tapi akan lebih baik kalau ada perangkatnya. Akan baik pula jika tidak terus menerus bergantung dengan Mustawi. Semoga dia bersabar. Sampai datang pertolongan Allah yang tidak kita duga-duga. 
 [Abdul Hamid ]

Sabtu, 20 Juli 2019

KEMBALI KE MASA LALU

Hari ini, menu sarapan pagi nya juga mengingatkan ke masa lalu. Ikan asin dengan sambal terong bakar. Terongnya dibakar langsung dengan kulit-kulitnya. Masih bau asap. Bekas kulit gosongnya juga terasa. Nikmat sekali. Hanya saja, tidak lagi dimakan dengan Pok Lempok. Singkong rebus yang ditumpuk hingga halus. 

Dahulu waktu masih sekolah SD, Sarapan paginya seperti itu. Serba tradisional. Yang kalau masak masih pakai tungku dan kayu bakar. Tidak ada kompor gas apalagi rice cooker. Tida ada kulkas. Listrik belum masuk kampung. Serba tradisional.

Meskipun begitu, zaman dulu tidak panik kalau tidak ada listrik. Tidak seperti tadi malam, yang ketika listrik padam selama 3 jam setengah semua terasa panik. Hingga anak-anak di komplek menjerit kegerahan. Tidak ada kipas dan AC. Tidak Bisa nonton TV. Rumah-rumah gelap gulita. 
Semua barang elektronik jadi tidak ada artinya. Jadi sampah. Inilah sisi lain dari kemajuan zaman yang serba elektronik. Bahkan sudah zaman digital. Era Four point Zero (4.0). Yang oleh para ahli dianggap akan membuat manusia jadi pengangguran. Karena pekerjaan sudah serba digital. Lupa dengan kodrat manusia. Beruntung Jepang langsung merespon dengan Era 5.0. Yang lebih humanis, dan menempatkan manusia menjadi manusiawi.

Indonesia masih bingung. Dalam persimpangan. Presiden Jokowi sendiri, ikut-ikutan tren Era 4.0. Berbeda dengan Wapres terpilih. KH. Ma'ruf Amin. Yang menanggapi era 4.0 dengan Soft. Sepertinya Wapres Kiai itu sedang menyusun cara untuk meredam geliat 4.0. Dengan pendekatan ekonomi syariah. Pendekatan ekonomi yang membawa kemaslahatan. Bukan Kemudharatan. 

Era 4.0 sendiri menurut saya tidak akan membawa banyak manfaat. Apalagi untuk Indonesia hari ini. Yang dunia digitalnya masih belum aman. Yang uang nasabah bisa raib dalam hitungan detik. Bisa banyak orang kaya terkena stoke mendadak. Bisa cepat Panik dan cepat tua. Semoga prediksi saya ini salah. Karena tabungan nasabah Bank Mandiri sudah normal. Semoga era 4.0 ini normal. Tidak menjadikan kita menjadi manusia ERROR. 

Sungai Ambawang, 21 Juli 2019

Ad Placement

Review

Artikel

news