POLA PIKIR INSTAN - INSPIRASI SYARIAH

Kamis, 05 Maret 2015

POLA PIKIR INSTAN

Seseorang yang memiliki pola pikir instan selalu menginginkan segala sesuatu berjalan dengan cepat dan praktis tanpa proses, tanpa bersusah-susah, segera menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Pola pikir instan sudah merambah dari cara makan sampai ke banyak bidang. Dari cara konsumsi makanan sehari- hari hingga dalam mecari kesenangan. Pencarian kesenangan secara instan ini pada gilirannya mendorong masyarakat ke kehidupan hedonis jauh dari kesederhanaan. Muncullah trend pembelian barang-barang elektronik dikalangan remaja hingga orang dewasa yang tujuannya untuk sesuatu yang konsumtif.

Pola pikir instan juga merambah kedalam lembaga keuangan syariah. Tidak sedikit lembaga keuangan syariah seperti koperasi syariah maupun BMT yang didirikan hanya untuk memanfaatkan program bantuan dana dari pemerintah, ataupun sekedar ikutan trend perkembangan ekonomi syariah. Pola pikir semacam ini secara tidak langsung berakibat pada kolaps nya beberapa koperasi syariah dan BMT di Indonesia. Begitu banyak koperasi syariah maupun BMT yang telah mendapatkan izin pendirian berupa badan hukum dari pemerintah, namun setelah izin tersebut dikeluarkan lembaga tersebut perlahan-lahan redup dan hanya sisa plang nama.

Banyak pengurus koperasi syariah yang diisi oleh orang-orang tidak paham terhadap aturan, akuntansi koperasi dan prinsip pengelolaan dalam koperasi syariah tiba-tiba muncul menjadi pimpinan koperasi syariah. Mereka dipilih bukan berdasarkan kompetensi, tetapi berdasarkan "kontribusi modal" terhadap koperasi. Maka akibatnya adalah praktik pembiayaan hanya mengalir kepada pemilik modal, bukan dalam rangka mensejahterakan anggota. Pola berfikir instan membuat pengurus koperasi syariah melupakan proses natural dari kamajuan suatu lembaga keuangan. Seorang pengurus ingin menjadi cepat kaya tetapi tidak mau tekun mengelola koperasi yang dipimpinnya.

Menurut Agus Wiyono (2013), Akibat buruk dari pola pikir instan mengakibatkan :
1. Orang menjadi malas mengikuti proses yang semestinya.
Proses yang panjang dan berjenjang dianggap sesuatu yang menyebalkan dan lambat. Orang akan lebih terfokus pada hasil akhir, tidak mau mengikuti proses yang mesti dilalui. Dalam praktik koperasi syariah, misalkan  ada anggota yang tidak mau mengikuti prosedur dalam pengajuan pembiayaan, sehingga dia akan melakukan suap kepada pihak manajemen agar pengajuan pembiayaannya cepat dikabulkan.
2. Orang bisa saja menghalalkan cara demi suatu tujuan.
Tidak peduli bagaimana cara yang mesti ditempuh, yang penting "tujuan" tercapai. Ingin kaya dengan penghasilan pas-pasan, lalu putar otak bagaimana caranya agar lekas kaya. Sekalipun harus korupsi, mencuri, menipu, memanipulasi data dan sebagainya. Norma-norma agama bisa ditinggalkannya, karena demi satu tujuan "kaya".
3. Menjadikan generasi santai dan manja.
Terbiasa dengan yang serba mudah dan cepat membuat orang menjadi malas berusaha, malas kerja keras dan tumbuh menjadi generasi santai dan manja.
4. Mudah frustasi karena hanya mengerti satu jalan, padahal dengan berfikir proses dapat ditemukan berbagai jalan penyelesaian terhadap permasalahan
5. Tidak dapat menghargai jerih payah orang lain karena menganggap mereka juga mendapatkan dengan instan.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

Berkomentar sesuai dengan topik, gunakan Name dan URL jika ingin meninggalkan jejak, link hidup dalam komentar dilarang, melanggar kami hapus